Prediksi Rupiah vs Dolar AS Habis Libur Lebaran 2026, Bakal Gimana?

Dolar AS Makin Nanjak, Pagi Ini Tembus Rp17.110

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS setelah libur Lebaran 2026 diprediksi bakal naik-turun, tapi arahnya masih cenderung melemah di kisaran Rp16.990–Rp17.075 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg per Selasa (17/3/2026) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup stagnan di level Rp16.997 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS justru melemah tipis 0,19% ke posisi 99,89.

Di Asia, pergerakan mata uang juga campur aduk. Yen Jepang, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura kompak melemah. Sementara itu, dolar Taiwan, won Korea Selatan, peso Filipina, yuan China, dan ringgit Malaysia justru menguat. Baht Thailand jadi salah satu yang ikut melemah.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, salah satu penyebab rupiah sempat “diam di tempat” adalah gangguan pengiriman di Selat Hormuz akibat konflik AS, Israel, dan Iran yang sudah masuk minggu ketiga tanpa tanda-tanda damai.

Dampaknya? Harga minyak dunia naik cukup tajam.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak ini tetap terjadi meski Donald Trump sudah meminta negara-negara NATO ikut membantu meredakan situasi di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran juga mulai memberi kelonggaran dengan mengizinkan kapal non-AS dan non-Israel untuk melintas.

Dari sisi global, pasar juga lagi menunggu keputusan bank sentral AS, The Fed, yang diperkirakan masih akan menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%.

Sementara dari dalam negeri, pemerintah berusaha menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3%, meskipun sebelumnya sempat ada wacana defisit bisa tembus di atas 4%. Caranya, dengan menekan pengeluaran yang dianggap tidak terlalu mendesak, termasuk evaluasi program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di saat yang sama, Bank Indonesia juga memilih menahan suku bunga di level 4,75%, dengan mempertimbangkan kondisi global yang lagi penuh ketidakpastian, terutama akibat konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak.

Di sisi lain, ada kabar yang sedikit menenangkan. Kebijakan baru Bank Indonesia yang mulai berlaku 1 April 2026 diperkirakan bisa membantu menahan pelemahan rupiah.

Salah satunya dengan memperketat aturan transaksi valas—batas kewajiban dokumen untuk pembelian dolar diturunkan dari US$100.000 jadi US$50.000 per bulan. Transfer valas ke luar negeri juga kena aturan serupa.

Menurut ekonom Bank Permata, Josua Pardede, langkah ini cukup efektif buat meredam tekanan dalam jangka pendek. Tapi efeknya lebih ke “peredam kejut”, bukan langsung bikin rupiah menguat drastis.

BI juga memberi ruang lebih besar untuk lindung nilai (hedging), dengan menaikkan batas transaksi seperti DNDF dan swap dari US$5 juta jadi US$10 juta per transaksi. Tujuannya supaya kebutuhan dolar dari pelaku usaha nggak numpuk di pasar spot.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga masih cukup tebal, sekitar US$151,9 miliar per Februari 2026—setara 6,1 bulan impor—yang bisa dipakai untuk stabilisasi pasar.

Meski begitu, tekanan terbesar rupiah saat ini masih datang dari faktor global. Konflik di Timur Tengah bikin harga minyak melonjak, dolar AS menguat, dan imbal hasil obligasi AS naik—yang akhirnya mendorong investor asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.