Jakarta – Rupiah lagi tertekan cukup dalam terhadap dolar AS. Bahkan, per pukul 09.31 WIB hari ini, nilainya sudah tembus di atas Rp17.000 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv.
Padahal sebelumnya sempat menguat. Pada 26 Maret 2026, rupiah masih ada di level Rp16.895 per dolar AS. Tapi setelah itu, pelan-pelan melemah lagi—mulai dari Rp16.960, naik ke Rp16.990, dan akhirnya tembus Rp17.000 hari ini.
Menurut Kepala Ekonom, David Sumual, tekanan ke rupiah sekarang lebih banyak datang dari faktor eksternal. Salah satunya, harga minyak dunia yang terus naik gara-gara konflik di Timur Tengah, yang bikin pasar keuangan jadi waswas.
Selain itu, ada juga tekanan dari dalam negeri. Kenaikan harga minyak dikhawatirkan bisa membebani APBN, sehingga memicu aksi jual dari investor asing di pasar obligasi pemerintah (SUN).
“Sentimen negatif dari luar masih kuat, ditambah kekhawatiran dampaknya ke APBN. Makanya ada tekanan jual dari investor asing,” jelasnya.
Sementara itu, Faisal Rachman menambahkan, rupiah juga kebebani beberapa sentimen domestik.
Salah satunya, keputusan pemerintah yang belum menaikkan harga BBM non-subsidi, yang justru memunculkan kekhawatiran soal kondisi fiskal ke depan. Ini bikin sebagian investor jadi lebih hati-hati (risk off).
Selain itu:
- Sentimen global yang mulai membaik bikin Bank Indonesia kemungkinan nggak terlalu agresif intervensi di pasar valas
- Masuk kuartal II, biasanya ada peningkatan pembayaran imbal hasil ke investor asing
- Pasar juga lagi nunggu data penting seperti inflasi dan neraca perdagangan
Meski begitu, BI juga nggak tinggal diam. Per akhir Maret, BI sudah meluncurkan instrumen baru buat menjaga stabilitas rupiah.
Instrumen ini berupa transaksi repo valas dengan jaminan Sekuritas Valuta Asing BI (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing BI (SUVBI).
Menurut Erwin Gunawan Hutapea, langkah ini bagian dari strategi BI untuk bikin pasar keuangan lebih dalam dan fleksibel.
Instrumen ini juga diharapkan bisa bantu perbankan dalam mengelola likuiditas, terutama dalam valuta asing.
Dengan langkah ini, BI berharap pasar keuangan makin kuat dan rupiah bisa lebih stabil, meskipun kondisi global masih penuh ketidakpastian.
