JAKARTA — Inflasi di Maret 2026 diperkirakan mulai melandai, tapi jangan senang dulu—tekanan harga, terutama dari bahan pangan, masih terasa cukup tinggi, apalagi selama Ramadan dan Lebaran.
Lembaga riset Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan inflasi tahunan (yoy) turun dari 4,76% di Februari jadi sekitar 3,71% di Maret 2026.
Menurut Faisal Rachman, penurunan ini salah satunya karena efek diskon tarif listrik tahun lalu sudah berakhir, jadi basis perbandingannya berubah.
Meski begitu, momen Ramadan dan Idulfitri tetap bikin harga-harga naik, terutama di sektor makanan, transportasi, dan rekreasi karena permintaan meningkat.
Untuk inflasi inti, pergerakannya cenderung stabil—naik tipis dari 2,63% ke 2,65%. Kenaikan ini masih tergolong wajar karena faktor musiman, walaupun sempat tertahan penurunan harga emas.
Kalau dilihat secara bulanan, inflasi juga masih cukup tinggi, tapi mulai ada tanda-tanda melambat. Diperkirakan inflasi Maret ada di 0,63% (month-to-month), turun dari 0,68% di Februari.
Penyebab utamanya masih sama: lonjakan permintaan saat Ramadan dan Lebaran, terutama buat makanan, perjalanan, dan hiburan. Tapi turunnya harga emas sedikit membantu menahan kenaikan ini.
Dari sisi bahan pangan, komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam, dan telur diprediksi masih naik. Sementara bawang putih jadi pengecualian karena harganya berpotensi turun.
Selain itu, harga-harga yang diatur pemerintah (seperti transportasi) juga diperkirakan ikut naik lagi, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat saat mudik.
PIER juga mengingatkan ada risiko tambahan dari faktor global, terutama konflik di Timur Tengah yang bisa berdampak ke ekonomi Indonesia.
Menurut Faisal, sebelum konflik pun tekanan inflasi sebenarnya sudah mulai naik, dipicu kebijakan fiskal yang ekspansif dan pelonggaran kebijakan keuangan yang bikin uang beredar makin banyak.
Program makan bergizi gratis (MBG) juga dinilai bisa mendorong permintaan pangan. Kalau pasokannya nggak ikut naik, ini bisa makin menekan harga.
Dari luar negeri, ketegangan geopolitik berpotensi bikin rupiah melemah dan inflasi impor naik. Belum lagi kalau harga minyak dunia ikut melonjak, beban subsidi energi pemerintah bisa makin berat.
Kalau harga minyak Brent ada di kisaran US$80–US$100 per barel dan rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS, pemerintah kemungkinan harus menyesuaikan harga BBM.
Kalau itu terjadi, inflasi bisa nambah sekitar 1,4 sampai 3 poin persentase—dan berisiko melewati target Bank Indonesia di 2026.
Per akhir Maret, harga minyak Brent masih di sekitar US$77,73 per barel, sementara rupiah ada di kisaran Rp16.845 per dolar AS.
Dengan kondisi ini, ruang buat penurunan suku bunga acuan jadi makin sempit. Bank Indonesia kemungkinan bakal menahan suku bunga lebih lama demi menjaga stabilitas.
Tapi kalau tekanan inflasi makin tinggi—terutama dari energi—peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka.
