BFDCnews.com – Harga emas dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Senin (6/4/2026), seiring pelaku pasar masih menunggu perkembangan terbaru dari konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, terutama menjelang tenggat pembukaan kembali Selat Hormuz.
Saat ini, ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global masih jadi dua faktor utama yang paling memengaruhi pergerakan harga emas.
Di pasar spot, harga emas tercatat turun 0,57% ke level US$4.649,99 per troy ons pada Senin.
Mengutip Reuters, Iran menyatakan ingin ada akhir perang yang permanen dengan AS dan Israel. Namun di saat yang sama, Iran juga menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz hanya berdasarkan gencatan senjata sementara.
Sampai sekarang, kedua pihak disebut masih mempertimbangkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung selama lima pekan.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump dikabarkan sempat mengancam akan menyerang Teheran dengan “neraka” jika belum ada kesepakatan hingga Selasa.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, mengatakan perhatian pasar untuk saat ini kemungkinan besar masih akan tertuju pada dua hal utama, yaitu perkembangan konflik dan arah suku bunga.
“Fokus pasar kemungkinan masih tertuju pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut-larut, harga minyak akan terus naik di tengah kondisi pasokan yang semakin ketat, sehingga menambah tekanan inflasi,” kata Bart Melek.
Menurut dia, kondisi itu bisa membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), punya ruang yang makin sempit untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Bahkan, kalau harga energi terus naik, bukan tidak mungkin pasar kembali membicarakan peluang kenaikan suku bunga, dan itu biasanya jadi sentimen yang kurang positif buat emas.
“Hal itu membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), memiliki ruang yang lebih sempit untuk melonggarkan kebijakan, bahkan bisa memicu kembali diskusi mengenai kenaikan suku bunga jika harga energi terus meningkat, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas,” imbuhnya.
Sementara itu, harga minyak juga bergerak naik tipis dalam perdagangan yang masih fluktuatif, setelah sebelumnya melonjak cukup tajam sejak konflik dimulai.
Kenaikan harga energi ini dinilai bisa memperkuat tekanan inflasi dan membuat ruang pelonggaran suku bunga menjadi semakin terbatas.
Secara fundamental, emas memang dikenal sebagai aset safe haven atau pelindung nilai saat pasar dilanda ketidakpastian geopolitik dan inflasi.
Namun, karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tariknya biasanya akan berkurang ketika suku bunga sedang tinggi atau justru berpotensi naik.
Selain perkembangan konflik, pelaku pasar juga tengah menunggu sejumlah data ekonomi penting dari AS pada pekan ini.
Beberapa yang paling jadi perhatian adalah:
- risalah rapat kebijakan Federal Reserve pada Rabu,
- data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Kamis, dan
- data indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat.
Sebelumnya, bank sentral AS memang memutuskan untuk menahan suku bunga pada pertemuan bulan lalu. Saat ini, mayoritas pelaku pasar mulai melihat peluang pemangkasan suku bunga tahun ini makin kecil, berdasarkan alat FedWatch CME.
Di pasar logam mulia lainnya, pergerakan harga juga cenderung melemah. Perak spot turun 0,3% ke US$72,81 per troy ons, platinum turun 0,6% ke US$1.976,21, dan paladium melemah 1,1% ke US$1.487,22 per troy ons.
