Likuiditas Bank Tetap Solid, Dua Saham Ini Jadi Sorotan

BFDCnews.com – Likuiditas perbankan di Indonesia masih terjaga, meski kondisi ekonomi global lagi penuh tekanan.

Berdasarkan riset analis Sucor Sekuritas, Edward Lowis (9 April 2026), sektor perbankan masih cukup solid. Walaupun begitu, pertumbuhan kredit mulai melambat dan risiko geopolitik masih jadi bayang-bayang.

Pertumbuhan kredit per Februari 2026 tercatat 9,4% secara tahunan. Angka ini sebenarnya masih oke, tapi sedikit turun dari 10% di Januari.

Kalau dilihat lebih dalam, pertumbuhan ini banyak ditopang kredit investasi yang melonjak 22,3%. Sementara itu, kredit modal kerja cuma naik 3,9% dan kredit konsumsi 6,6%. Ini nunjukin kalau permintaan dari segmen mass market dan UMKM masih belum terlalu kuat.

Dari sisi likuiditas, kondisi bank masih longgar. Rasio loan to deposit (LDR) turun ke 84% dari sebelumnya 85% di akhir 2025. Artinya, kemampuan pendanaan bank masih aman.

Dana murah alias CASA juga tumbuh lebih cepat, naik 14%, dibanding deposito yang naik 12,6%. Ini sejalan dengan turunnya suku bunga deposito sejak awal tahun, yang bikin biaya dana jadi lebih ringan.

Meski begitu, Edward ngingetin kalau ketegangan geopolitik dan ketidakpastian harga BBM bisa bikin pemulihan kredit jadi tertunda, yang tadinya diharapkan terjadi di paruh kedua 2026.

Bank pun sekarang cenderung lebih hati-hati, terutama buat menjaga kualitas kredit di tengah daya beli yang masih tertekan.

Untuk rasio kredit bermasalah (NPL), memang masih relatif stabil. Tapi mulai kelihatan ada tekanan, terutama di kredit modal kerja yang naik ke 2,5% dari sebelumnya 2,4%.

Pertumbuhan kredit di segmen ini juga melambat cukup tajam, dari 7,5% jadi 3,9%. Sementara itu, kredit investasi dan KPR mengalami kenaikan NPL tipis, dan kredit konsumsi masih relatif stabil.

Menurut Edward, kondisi yang penuh ketidakpastian ini bisa berdampak ke kemampuan bayar masyarakat, terutama di segmen konsumen. Jadi, risiko penurunan kualitas kredit tetap perlu diwaspadai.

Di sisi lain, kinerja bank-bank besar masih cukup kuat. Laba lima bank besar tumbuh 10,7% secara tahunan sampai Februari 2026.

Pertumbuhan ini didorong oleh turunnya biaya kredit dibanding periode sebelumnya, serta biaya dana yang lebih efisien karena likuiditas yang masih longgar.

Beberapa bank yang mencatat pertumbuhan laba cukup tinggi antara lain BBRI, BMRI, dan BRIS yang masing-masing naik sekitar 17%.

Sementara itu, BBCA dan BBNI tumbuh lebih pelan, masing-masing sekitar 3% dan 4%, karena pertumbuhan kredit yang lebih lambat dan biaya kredit yang lebih tinggi.

Dari sisi valuasi, sektor perbankan sekarang dinilai lagi menarik. Tekanan sentimen global bikin valuasi turun, bahkan saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya.

Artinya, ada peluang naik kalau kondisi ekonomi mulai stabil.

Sucor Sekuritas pun masih merekomendasikan bank-bank besar, dengan BBCA dan BRIS sebagai pilihan utama.

BBCA dinilai unggul karena fokus ke nasabah kelas atas dan manajemen yang konservatif, sehingga labanya lebih stabil. Sementara BRIS diuntungkan dari pertumbuhan perbankan syariah dengan portofolio yang cenderung defensif.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.