IHSG Masih Loyo, Tapi Saham-Saham Ini Bisa Jadi Peluang Menarik

IHSG Masih Loyo, Tapi Saham-Saham Ini Bisa Jadi Peluang Menarik

BFDCnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum bisa keluar dari tekanan. Pada perdagangan Selasa (26/5), IHSG ditutup turun 1,23% ke level 6.130,19. Tekanan datang dari aksi jual investor asing ditambah sentimen jelang rebalancing indeks MSCI yang mulai berlaku per 1 Juni 2026.

Beberapa saham seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk sempat jadi penahan laju pelemahan indeks. Tapi tekanan dari saham-saham big caps seperti PT Astra International Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk akhirnya bikin IHSG tetap parkir di zona merah.

Investor asing juga masih agresif melakukan aksi jual. Di pasar reguler, asing tercatat net sell sekitar Rp1,89 triliun, sementara di seluruh pasar mencapai Rp1,60 triliun. Dari sisi sektor, delapan dari sebelas sektor ditutup melemah. Sektor industrial jadi yang paling tertekan, sedangkan sektor infrastruktur masih sanggup bertahan tipis di zona hijau.

Di tengah tekanan domestik, pasar saham Amerika Serikat justru mayoritas ditutup menguat. Dow Jones bergerak tipis, sementara S&P 500 dan Nasdaq lanjut naik.

Meski begitu, tekanan di pasar domestik dinilai masih bisa berlanjut. Dalam dua hari terakhir saja, arus dana asing keluar dari pasar reguler sudah mencapai sekitar Rp3,98 triliun.

Sentimen utama masih datang dari rebalancing MSCI yang diperkirakan bisa memicu outflow hingga US$1,16 miliar atau sekitar Rp20,64 triliun. Selain itu, pelemahan rupiah juga masih jadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk disebut akan dibekukan sementara dalam berbagai perubahan terkait indeks MSCI, mulai dari jumlah saham beredar, Foreign Inclusion Factor (FIF), Domestic Inclusion Factor (DIF), hingga kemungkinan penambahan atau penghapusan saham di indeks MSCI pada review Mei 2026.

MSCI sendiri dijadwalkan kembali mengecek likuiditas saham teknologi tersebut pada review Agustus 2026 sesuai metodologi Global Investable Market Indexes (GIMI).

Belakangan ini, likuiditas perdagangan GOTO memang terlihat turun drastis. Sejak 13 Mei 2026, sahamnya terus bergerak di level Rp50. Hingga 26 Mei, volume transaksi GOTO tercatat sekitar 333 juta saham dengan nilai Rp16,67 miliar. Angka ini jauh lebih kecil dibanding rata-rata Januari-April 2026 yang mencapai 4,62 miliar saham dengan nilai transaksi Rp274,63 miliar.

Dari sektor tambang, PT Harum Energy Tbk menargetkan produksi batu bara sebesar 2-3 juta ton pada 2026. Perseroan juga membidik produksi dan penjualan nikel dalam bentuk NPI, HG Matte, dan MHP di kisaran 107-117 ribu ton metal tahun depan. Sementara produksi bijih nikelnya diproyeksikan mencapai 8-10 juta wet metric ton (wmt).

Untuk mendukung ekspansi tersebut, HRUM menyiapkan belanja modal sekitar US$310 juta. Sebagian besar dana, sekitar US$302 juta, akan dipakai untuk pengembangan proyek nikel, sedangkan sisanya digunakan untuk pemeliharaan bisnis batu bara. Hingga kuartal I-2026, realisasi capex HRUM sudah mencapai sekitar US$139 juta dan mayoritas masuk ke pengembangan bisnis nikel.

Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk memutuskan membagikan dividen jumbo untuk tahun buku 2025 sebesar Rp180 per saham atau total sekitar Rp3,57 triliun. Nilai ini setara sekitar 96,43% dari laba bersih perusahaan.

Sepanjang 2025, TAPG membukukan pendapatan Rp11,40 triliun, naik 17,9% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih juga tumbuh 18,59% menjadi Rp3,70 triliun, sementara laba per saham naik menjadi Rp186.

Dividen Rp180 per saham tersebut sudah termasuk dividen interim Rp39 per saham pada Agustus 2025 dan Rp50 per saham pada November 2025. Artinya, sisa dividen final yang akan dibagikan mencapai Rp91 per saham atau sekitar Rp1,81 triliun.

Pada penutupan perdagangan 26 Mei, saham TAPG berada di level Rp1.495 per saham. Dengan harga tersebut, dividend yield final tercatat sekitar 6,09%, sementara total dividend yield tahun buku 2025 mencapai 12,04%. Cum date dividen ditetapkan pada 3 Juni 2026 dan pembayaran dividen final dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.