Jakarta, BFDCnews.com — Harga perak dunia lagi tampil kinclong nih di akhir pekan. Pada Jumat (10/4/2026), harganya ditutup di US$75,88 per ounce, naik dari US$72,99 di awal April.
Artinya, dalam seminggu harga perak naik hampir 4% dan ini jadi kenaikan minggu ketiga berturut-turut.
Sempat Turun, Tapi Balik Nanjak
Pergerakan perak juga kelihatan cukup konsisten.
Sempat turun ke sekitar US$72,79 di 6 April, tapi setelah itu pelan-pelan naik lagi:
- ke US$72,93
- lalu US$74,12
- lanjut US$75,07
- sampai akhirnya tembus US$75,88
Ini nunjukin minat beli mulai balik lagi setelah sempat koreksi di awal bulan.
Perak: Aset Aman Sekaligus Industri
Perak itu unik, karena dipakai bukan cuma sebagai aset lindung nilai (safe haven), tapi juga buat kebutuhan industri.
Makanya, kalau dolar AS melemah, harga perak biasanya ikut terdorong karena jadi lebih murah buat pembeli global.
Selain itu, kalau ada peluang suku bunga turun, investor biasanya mulai melirik lagi aset seperti emas dan perak yang nggak kasih bunga tapi punya potensi naik.
Faktor Global Ikut Ngaruh
Sentimen pasar juga sempat terbantu dari meredanya ketegangan geopolitik, setelah ada gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran.
Dampaknya, harga minyak sempat turun dan kekhawatiran inflasi dari energi jadi agak reda. Ini membuka peluang bank sentral buat nurunin suku bunga—yang biasanya jadi kabar baik buat perak.
Tapi Risiko Masih Ada
Meski begitu, kondisi global belum sepenuhnya aman.
Masih ada ketegangan seperti:
- serangan Israel ke Lebanon
- gangguan di Selat Hormuz
Jadi, kenaikan harga perak ini bukan cuma soal bunga, tapi juga karena situasi dunia yang masih belum stabil.
Data Ekonomi AS Juga Berpengaruh
Dari sisi ekonomi, inflasi AS terbaru tercatat 3,3% (tahunan), yang jadi level tertinggi sejak Mei 2024.
Secara bulanan, inflasi juga naik cukup kencang, yaitu 0,9%.
Walaupun begitu, pasar masih melihat ada peluang sekitar 30% bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga di akhir tahun.
