Efek Domino Mulai Kerasa, Bos Tekstil Wanti-Wanti Soal Risiko PHK

BFDCnews.com, Jakarta — Lonjakan harga bahan baku gara-gara tekanan geopolitik sekarang mulai langsung kerasa di industri tekstil dalam negeri. Para pelaku usaha ngeluh biaya produksi naik cukup tajam dalam waktu singkat, sementara kondisi pasar malah lagi cenderung lesu.

Pimpinan PT Prima Fara Textile, Lukas L. Prawoto, bilang harga bahan baku tekstil melonjak dari sekitar 30% jadi 42% cuma dalam dua minggu terakhir. Nggak cuma itu, bahan kimia juga ikut naik sekitar 20%.

Alhasil, biaya produksi ikut terdongkrak.
“Udah kena sekitar 15%, bahan baku benangnya sendiri naik 35% sampai 40%,” jelasnya.

Masalahnya, kenaikan biaya ini nggak diikuti dengan permintaan pasar yang naik. Justru, penjualan diperkirakan turun sekitar 10%–15%. Jadi, ruang buat pelaku usaha menjaga margin makin sempit.

Di sini dilemanya:

  • Naikin harga → takut nggak laku
  • Harga ditahan → biaya makin berat

Tekanan ini juga bisa bikin efek berantai di industri. Kalau konsumen mulai nahan belanja karena harga naik, barang bisa numpuk di hilir. Ujung-ujungnya, produsen bakal ngurangin produksi, dan dampaknya bakal kerasa sampai ke sektor hulu.

“Pasar nggak mau terima, akhirnya nunda beli, nanti barang bisa stuck. Ini bahaya buat industri,” kata Lukas.

Kalau kondisi ini terus berlanjut, bukan nggak mungkin perusahaan bakal ambil langkah efisiensi, termasuk merumahkan pekerja.

“Kita bisa aja sampai harus merumahkan karyawan. Ini efeknya berantai kalau nggak cepat ditangani,” tambahnya.

Ke depan, tekanan diperkirakan makin berat, apalagi menjelang pertengahan tahun saat pengeluaran rumah tangga biasanya naik buat biaya sekolah. Ini bisa bikin konsumsi tekstil makin tertekan.

Karena itu, pelaku industri berharap pemerintah segera turun tangan buat bantu menstabilkan harga bahan baku, terutama yang masih bergantung impor. Selain itu, mereka juga mendorong adanya dialog antara pemerintah dan pelaku industri buat cari solusi jangka pendek.

“Kalau pemerintah bisa turun tangan soal BBM, industri juga perlu dibantu. Kalau nggak, yang kena dampaknya bisa tenaga kerja,” tegas Lukas.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.