Rupiah dibilang lagi “murah”, BI sampai all out intervensi dan naikin yield SRBI

BFDCnews.com, Jakarta — Bank Indonesia (BI) lagi all out nih buat jaga rupiah tetap stabil. Soalnya, rupiah saat ini dinilai masih di bawah nilai wajarnya alias undervalued.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, bilang kalau BI lagi memperkuat berbagai kebijakan karena kondisi pasar keuangan global lagi penuh ketidakpastian. Intervensi juga digencarkan di berbagai pasar, mulai dari NDF, spot, sampai DNDF.

Nggak cuma itu, BI juga “mainin” instrumen andalannya, yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dengan cara menaikkan suku bunganya supaya investor asing balik masuk ke Indonesia.

“Kami tegaskan nilai tukar rupiah sekarang ini masih undervalued dibanding fundamentalnya,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (22/4/2026).

Meski begitu, BI tetap optimistis ke depan rupiah bisa stabil bahkan menguat, karena didukung fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup solid. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih di kisaran 4,9% sampai 5,7%, walaupun ekonomi global lagi melambat.

Perry juga bilang tanda-tanda perbaikan rupiah sebenarnya sudah mulai kelihatan. Dengan berbagai langkah stabilisasi, rupiah sempat relatif stabil di sekitar Rp17.140 per dolar AS.

Selain intervensi pasar, BI juga memperketat aturan transaksi valas, seperti menaikkan batas transaksi dan penyesuaian berbagai instrumen derivatif seperti DNDF dan swap.

Di sisi lain, strategi menaikkan yield SRBI mulai menunjukkan hasil. Per 21 April 2026, total nilai SRBI sudah mencapai Rp885,41 triliun, naik dari bulan sebelumnya. Dari jumlah itu, investor asing pegang sekitar Rp165,98 triliun atau 18,75%.

Efeknya? Modal asing mulai balik lagi. Tercatat sampai 20 April 2026, ada net inflow sekitar US$1,9 miliar, terutama masuk ke SRBI dan juga SBN pemerintah karena imbal hasilnya makin menarik.

Buat menjaga likuiditas tetap aman, BI juga ikut beli SBN pemerintah. Totalnya sudah mencapai Rp111,54 triliun per 21 April 2026, termasuk pembelian di pasar sekunder sekitar Rp56,53 triliun.

Intinya, BI lagi ngerem habis-habisan biar rupiah nggak makin tertekan—dan pelan-pelan coba narik lagi ke level yang lebih “wajar”.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.