BFDCnews.com – Situasi geopolitik global lagi bikin khawatir, terutama soal rantai pasok bahan baku plastik. Kondisi ini justru jadi momen buat industri kemasan di Indonesia buat berbenah dan mulai beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan.
Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, bilang kalau pelaku industri sekarang sudah mulai diversifikasi bahan kemasan. Nggak cuma plastik, tapi juga pakai kertas, kaca, logam, sampai plastik daur ulang seperti rPET.
Kemasan Kertas Punya Potensi Besar
Salah satu yang paling dilirik adalah kemasan berbahan kertas. Menurut Kemenperin, industri pulp dan kertas di Indonesia sebenarnya sudah cukup kuat buat mendukung peralihan ini.
Saat ini ada 113 perusahaan di sektor ini, dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya juga nggak main-main, tembus USD 8,2 miliar, dan menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.
Ke depannya, kemasan kertas punya peluang besar, terutama untuk sektor ritel, makanan dan minuman, e-commerce, hingga logistik.
Nggak cuma itu, inovasi juga terus dikembangkan, seperti:
- Aseptic packaging (biar nggak terlalu bergantung pada cold chain)
- Barrier paper
- Paper bottle
- Nano-cellulose coating
- Active paper packaging
Bioplastik Juga Mulai Digenjot
Selain kertas, pemerintah juga mendorong pengembangan bioplastik dari bahan alami seperti singkong dan rumput laut.
Beberapa pelaku industri dalam negeri bahkan sudah mulai memproduksi kemasan berbasis pati singkong dan rumput laut. Ini jadi peluang besar, mengingat Indonesia termasuk produsen utama kedua bahan tersebut di dunia.
Saat ini:
- Kapasitas bioplastik dari singkong sekitar 8.000 ton per tahun
- Dari rumput laut sekitar 28 ton per tahun
Fokus Perkuat Industri Dalam Negeri
Kemenperin menegaskan akan terus memantau perkembangan global sekaligus memperkuat industri dalam negeri. Caranya lewat diversifikasi bahan baku, penguatan sektor hulu, dan pengembangan produk kemasan yang lebih beragam.
