Harga Minyak Makin Ngegas, Tembus Level Tertinggi 2 Pekan Gara-Gara Nego Iran Mandek

Jakarta — Harga minyak lagi naik cukup kencang nih, bahkan tembus level tertinggi dalam dua minggu terakhir di perdagangan Senin (28/4/2026). Penyebab utamanya? Negosiasi damai antara AS dan Iran masih mandek, ditambah pengiriman minyak lewat Selat Hormuz yang masih terbatas.

Minyak Brent naik sekitar 2,8% ke US$108,23 per barel, sementara WTI juga ikut naik 2,1% ke US$96,37 per barel.

Kenaikan ini bikin Brent sudah naik terus selama enam hari berturut-turut—pertama kalinya sejak Maret 2025. Bahkan, ini jadi level penutupan tertinggi sejak awal April. WTI juga nggak kalah, ikut naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Menurut analis, kondisi ini terjadi karena pasokan minyak global lagi ketat. Soalnya, konflik yang belum selesai bikin distribusi minyak dari Timur Tengah terganggu.

Bahkan, diperkirakan ada sekitar 10–13 juta barel minyak per hari yang gagal masuk ke pasar global gara-gara kebuntuan ini.

Kalau lihat kondisi di lapangan, aktivitas di Selat Hormuz juga masih sepi. Dalam 24 jam terakhir, cuma sekitar tujuh kapal yang melintas—jauh banget dibanding kondisi normal yang bisa sampai 140 kapal per hari sebelum konflik.

Nggak cuma itu, beberapa kapal tanker minyak Iran juga terpaksa balik arah karena adanya blokade dari AS.

Situasi ini bikin pasar makin waspada. Selama konflik belum jelas arahnya dan jalur distribusi belum pulih, harga minyak berpotensi tetap tinggi.

Efeknya ke mana-mana—termasuk ke inflasi global. Kalau harga energi terus naik, bank sentral seperti ECB bisa saja terdorong buat menaikkan suku bunga lagi buat menahan inflasi.

Di sisi lain, proyeksi harga minyak juga ikut direvisi naik. Goldman Sachs misalnya, memperkirakan harga Brent bisa di kisaran US$90 per barel di kuartal IV, sementara WTI di sekitar US$83.

Intinya, selama konflik belum kelar dan pasokan masih ketat, harga minyak kemungkinan besar bakal tetap “panas”.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.