Jakarta, BFDCnews.com — Nilai tukar rupiah lagi-lagi bikin perhatian. Pada perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,26% ke Rp17.410 per dolar AS. Angka ini jadi rekor terendah baru, apalagi muncul barengan dengan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026.
Kondisi ini langsung jadi perhatian Prabowo Subianto. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, ia mengumpulkan jajaran menteri Kabinet Merah Putih dan tim Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk membahas situasi ini.
Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, salah satu yang disorot adalah derasnya arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia. Pemerintah dan otoritas terkait pun langsung menyiapkan langkah antisipasi.
Koordinasi juga diperkuat antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk menjaga aliran dana asing tetap masuk.
Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, sebenarnya sudah mulai ada aliran dana masuk lagi, walaupun secara keseluruhan (year to date) masih didominasi outflow. Karena itu, BI dan pemerintah sepakat mendorong masuknya dana lewat berbagai instrumen agar bisa menutup arus keluar dari pasar saham dan obligasi.
Buat menahan tekanan ini, BI menyiapkan beberapa langkah. Salah satunya tetap aktif intervensi di pasar valas, baik di dalam negeri maupun luar negeri lewat instrumen seperti non-delivery forward (NDF) di pusat keuangan global.
Selain itu, BI juga mendorong masuknya dana asing lewat instrumen SRBI, serta melanjutkan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar obligasi. Sampai sekarang, pembelian SBN oleh BI sudah mencapai Rp123,1 triliun sepanjang tahun ini.
Dari sisi likuiditas, BI memastikan kondisi perbankan tetap longgar. Hal ini terlihat dari pertumbuhan uang primer yang masih tumbuh double digit, terakhir di angka 14,1%.
Ada juga kebijakan baru terkait pembelian dolar. BI akan membatasi pembelian dolar tanpa underlying dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan. Tujuannya jelas: menekan spekulasi dan menjaga stabilitas rupiah.
Tak cuma itu, BI juga memperluas intervensi di pasar offshore dengan melibatkan bank-bank domestik agar suplai dolar di pasar global makin banyak, sehingga bisa bantu menstabilkan rupiah.
Pengawasan juga diperketat. BI bersama OJK akan memonitor lebih ketat aktivitas pembelian dolar oleh perbankan dan korporasi agar kondisi tetap terkendali.
Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan rencana penerbitan obligasi dalam mata uang yuan China atau Panda Bond. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat diversifikasi sumber pendanaan.
Ia juga menegaskan kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat dan bahkan sedang dalam fase akselerasi. Menurutnya, investor yang bertahan di pasar modal justru punya peluang cuan lebih besar ke depan.
“Kalau sekarang banyak yang keluar, justru yang bertahan bisa dapat keuntungan nanti,” kurang lebih begitu pesannya.
Ke depan, pemerintah juga akan fokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2026 lewat berbagai stimulus dan koordinasi erat dengan bank sentral.
Intinya, meski rupiah lagi tertekan, pemerintah dan otoritas keuangan sudah menyiapkan berbagai jurus untuk menjaga stabilitas dan mendorong kepercayaan pasar tetap terjaga.
