BFDCnews.com – Harga minyak dunia jatuh cukup dalam pada perdagangan Rabu (6/5/2026) setelah tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz mulai mereda.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi militer bernama Project Freedom yang bertujuan mengamankan jalur kapal dagang di Selat Hormuz. Tak lama setelah itu, angkatan laut Iran juga menyatakan jalur aman di kawasan tersebut bakal dipastikan tetap terbuka.
Pasar makin optimistis setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Akibat sentimen positif tersebut, harga minyak langsung ambles. Harga minyak Brent kontrak Juli turun 6,8% ke level US$102,45 per barel, bahkan sempat jatuh di bawah US$100 hingga menyentuh level terendah harian di US$96,77 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6,4% menjadi US$95,69 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak minyak ini juga sudah ditutup melemah hampir 4% pada perdagangan sehari sebelumnya.
Laporan Axios menyebut Gedung Putih dan Iran kini hampir mencapai kesepakatan berupa nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri konflik. Dokumen itu disebut bakal menjadi dasar negosiasi nuklir yang lebih detail ke depan.
Kabarnya, AS meminta Iran memberikan jawaban dalam 48 jam terkait beberapa poin penting. Dalam proposal tersebut, Iran diminta menghentikan pengayaan nuklir sementara AS akan mencabut sanksi dan membuka blokir dana Iran yang selama ini dibekukan.
Selain itu, pembatasan di Selat Hormuz juga disebut bakal dicabut agar jalur pelayaran kembali normal.
Wall Street Journal juga melaporkan proposal tersebut berisi 14 poin dan membuka peluang pembicaraan damai selama satu bulan untuk benar-benar mengakhiri perang.
Trump sendiri mengatakan operasi militer AS yang dijuluki Epic Fury bisa dihentikan jika Iran menyetujui kesepakatan tersebut. Namun, ia juga memberi peringatan bahwa serangan bisa kembali dilanjutkan dengan intensitas lebih besar jika kesepakatan gagal tercapai.
Belakangan, Trump mengaku optimistis kesepakatan damai bisa tercapai bahkan sebelum kunjungannya ke China akhir bulan ini. Menurutnya, perang saat ini punya “peluang bagus” untuk berakhir.
Di sisi lain, Iran lewat Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) menyebut proposal terbaru AS masih dipelajari. Namun, Iran menegaskan pembahasan saat ini fokus pada penghentian perang dan belum menyentuh isu nuklir secara detail.
Meredanya konflik ini juga membuat pasar mulai melihat peluang jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal. Padahal sebelumnya kawasan itu sempat memanas setelah operasi Project Freedom memicu respons militer dari Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menyebut jalur aman di Selat Hormuz akan dijamin tetap terbuka bagi kapal-kapal dagang.
Analis ING menilai normalisasi arus minyak lewat Selat Hormuz sangat penting bagi pasar global. Sebab, sekitar 13 juta barel minyak per hari sempat terganggu akibat konflik tersebut.
Sementara itu dari Amerika Serikat, laporan mingguan Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan stok minyak mentah komersial AS turun 2,3 juta barel.
Data EIA juga mencatat ekspor minyak mentah dan produk turunannya dari AS tetap tinggi, mencapai 4,75 juta barel per hari. Bahkan ekspor produk minyak AS menyentuh rekor tertinggi di level 8,22 juta barel per hari.
Kondisi ini menunjukkan AS kini menjadi salah satu pemasok minyak utama dunia selama konflik di Selat Hormuz berlangsung, terutama untuk memenuhi kebutuhan Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
