Jakarta, BFDCnews.com – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (8/5/2026). Tekanan datang setelah dolar AS kembali menguat di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pagi ini dibuka turun 0,06% ke level Rp17.340 per dolar AS. Padahal sehari sebelumnya, Kamis (7/5/2026), rupiah sempat ditutup menguat 0,29% di posisi Rp17.330 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ikut naik 0,15% ke level 98,210 per pukul 09.00 WIB.
Penguatan dolar AS ini diperkirakan bakal menahan laju mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sepanjang perdagangan hari ini.
Sentimen pasar kembali memanas setelah ketegangan antara AS dan Iran naik lagi. Kedua negara saling serang dan melontarkan pernyataan keras pada Kamis waktu setempat, sehingga membuat situasi gencatan senjata yang sudah berjalan sekitar sebulan jadi kembali rawan.
Kondisi ini bikin investor lebih waspada. Harga minyak dunia pun ikut melonjak, bahkan kontrak minyak mentah AS sempat naik sekitar 3% di awal perdagangan pagi ini.
Naiknya harga minyak memicu kekhawatiran pasar soal inflasi global dan potensi terganggunya pasokan energi.
Di tengah situasi yang tidak pasti, investor kembali memburu dolar AS sebagai aset safe haven. Alhasil, dolar menguat untuk hari kedua berturut-turut setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Sebelumnya, pasar sempat optimistis dengan peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Namun kini, sentimen itu mulai memudar.
Dengan kondisi global yang kembali memanas, ruang penguatan rupiah pun jadi makin terbatas.
Pelaku pasar saat ini masih fokus memantau perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, hingga dampaknya terhadap inflasi dan arah suku bunga bank sentral AS ke depan.
