IHSG Mendadak Jeblok 2,5%, Ini Biang Keroknya

Jakarta, BFDCnews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak ambruk pada sesi II perdagangan Jumat (8/5/2026). Hingga pukul 15.33 WIB, IHSG anjlok 179,4 poin atau minus 2,5% ke level 6.994.

Mayoritas saham langsung tertekan ke zona merah. Tekanan jual juga terlihat cukup besar, dengan nilai transaksi sudah menembus Rp30 triliun bahkan sebelum pasar ditutup.

Saham-saham sektor komoditas jadi yang paling terpukul pada perdagangan sore ini, termasuk emiten pertambangan dan kontraktor tambang.

Berdasarkan data Refinitiv, saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi minus 17,19 poin. Disusul Barito Renewables Energy (BREN) minus 12,91 poin, Merdeka Copper Gold minus 12,33 poin, Bumi Resources Minerals (BRMS) minus 7,5 poin, dan Amman Mineral (AMMN) minus 6,99 poin.

Tekanan di saham komoditas terutama dipicu kabar pemerintah yang tengah mengkaji penerapan pajak baru untuk sektor batu bara dan nikel. Pajak ini dikenal sebagai windfall profit tax atau pajak atas keuntungan besar yang diperoleh industri saat harga komoditas melonjak.

Rencana windfall tax tersebut nantinya disebut akan berjalan berbarengan dengan kebijakan bea keluar. Saat ini, pembahasannya masih dilakukan bersama Kementerian ESDM.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kebijakan itu disiapkan untuk membantu menutup beban subsidi energi pemerintah yang meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik Timur Tengah.

Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah kebijakan perpajakan baru yang akan berlaku mulai 2027.

Dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027, pemerintah menargetkan rasio penerimaan negara mencapai 11,82%-12,40% terhadap PDB. Untuk mengejar target itu, pemerintah akan memperkuat sistem perpajakan, digitalisasi data, hingga memperluas pengawasan aktivitas ekonomi.

Salah satu langkah yang masuk dalam rencana tersebut adalah penerapan windfall tax secara lebih terukur dan terarah.

Tak cuma itu, pemerintah juga sedang mengkaji sistem bagi hasil ala sektor migas untuk diterapkan di industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah ingin memastikan sektor tambang bisa memberi kontribusi lebih besar terhadap penerimaan negara dan kesejahteraan masyarakat.

Dari sentimen global, pasar juga dibayangi kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kedua negara dilaporkan kembali saling serang di Selat Hormuz. Serangan juga disebut terjadi di wilayah Teheran, sementara Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan adanya serangan drone dan rudal.

Di tengah situasi itu, pasar juga menyoroti rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Sentimen negatif tersebut ikut menekan bursa saham Asia. Indeks ASX200 Australia turun paling dalam hingga 1,51%, disusul Hang Seng Index (HSI) minus 0,87%, dan Nikkei Jepang turun 0,19%.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.