Rupiah Masih Gak Bergerak, Dolar AS Betah di Rp17.730 Pagi Ini

Rupiah Masih Gak Bergerak, Dolar AS Betah di Rp17.730 Pagi Ini

Jakarta, BFDCnews.com – Rupiah membuka perdagangan Selasa (26/5/2026) dengan gerak yang masih adem ayem terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengacu data Refinitiv, rupiah pagi ini dibuka di level Rp17.730/US$, alias masih sama seperti posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (25/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,23% ke Rp17.730/US$. Level tersebut sekaligus jadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia justru terlihat melemah. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,17% ke level 99,068.

Pergerakan rupiah menjelang libur panjang Idul Adha diperkirakan masih bakal dipengaruhi sentimen global, terutama perkembangan geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia.

Dolar AS sendiri melemah setelah pasar mulai optimistis soal peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik Iran yang sudah berlangsung sekitar tiga bulan.

Walaupun peluang damai dalam waktu dekat masih belum terlalu besar, harapan adanya kesepakatan sudah cukup bikin harga minyak turun ke bawah US$100 per barel. Kondisi ini ikut membantu meredakan tekanan terhadap mata uang negara berkembang dan meningkatkan minat investor ke aset berisiko.

Kabar terbaru menyebut negosiator utama Iran bersama menteri luar negerinya sedang berada di Doha untuk berdiskusi dengan perdana menteri Qatar terkait potensi kesepakatan tersebut.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan “baik”, meski tetap memberi sinyal ancaman serangan baru jika negosiasi gagal.

Sementara itu, Komando Pusat AS mengaku telah melancarkan serangan tambahan demi melindungi pasukan mereka dari ancaman Iran.

Meski kondisi geopolitik belum benar-benar kondusif, pasar mulai melihat ada peluang menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Kalau risiko gangguan pasokan minyak mereda, tekanan terhadap inflasi dan ekonomi global juga bisa ikut berkurang.

Melemahnya indeks dolar AS jadi tanda bahwa pelaku pasar mulai mengurangi posisi di aset berbasis dolar. Situasi ini bisa membuka peluang penguatan untuk mata uang lain, termasuk rupiah.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.