Jakarta, BFDCnews.com – Harga beras kembali menunjukkan tren kenaikan pada Mei 2026. Kenaikan ini terjadi di hampir seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan hingga ke tangan konsumen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp13.765 per kilogram. Di tingkat grosir, harganya naik menjadi Rp14.574 per kilogram, sementara di tingkat eceran sudah menyentuh Rp15.358 per kilogram. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dibandingkan bulan sebelumnya, harga beras di tingkat penggilingan naik 0,58%. Di tingkat grosir kenaikannya mencapai 0,68%, sedangkan di tingkat eceran bertambah 0,38%.
Kenaikan tahunan terlihat lebih mencolok. Dibandingkan Mei 2025, harga beras di tingkat penggilingan melonjak 8,10%, di grosir naik 6,11%, dan di tingkat eceran meningkat 4,55%.
Bagi masyarakat, terutama rumah tangga yang mengandalkan beras sebagai makanan pokok, kenaikan ini tentu menambah beban pengeluaran. Apalagi bagi kelompok berpenghasilan rendah yang sebagian besar anggaran bulanannya masih terserap untuk kebutuhan pangan.
Namun ceritanya sedikit berbeda di sisi petani. Saat harga beras naik, kondisi ekonomi petani justru menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebagai informasi, NTP merupakan indikator yang menggambarkan kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan hidup dan biaya produksi dari hasil penjualan produk pertanian mereka.
Kenaikan NTP terjadi karena pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluarannya. Indeks Harga Terima Petani (It) naik 2,53% menjadi 163,16, sementara Indeks Harga Bayar Petani (Ib) hanya naik 0,53% menjadi 127,74.
Sederhananya, uang yang masuk ke kantong petani bertambah lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan. Kondisi ini membuat daya beli petani ikut membaik.
Dampak tersebut paling terasa di subsektor tanaman pangan. NTP tanaman pangan tercatat sebesar 113,79 atau naik 1,34% dibandingkan April 2026. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga gabah yang ikut mendongkrak pendapatan petani padi.
Artinya, sebagian kenaikan harga beras yang terjadi di pasar memang ikut mengalir menjadi tambahan pendapatan bagi petani, bukan hanya dinikmati oleh pelaku distribusi atau perdagangan.
Hal ini cukup menarik karena dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan harga beras tidak selalu berujung pada meningkatnya kesejahteraan petani. Tak jarang harga beras melonjak di pasar, tetapi keuntungan terbesar justru dinikmati rantai distribusi.
Data Mei 2026 menunjukkan situasi yang sedikit berbeda. Kali ini, kenaikan harga beras berjalan seiring dengan membaiknya indikator kesejahteraan petani secara nasional.
Meski begitu, kondisi positif tersebut belum dirasakan merata di seluruh sektor pertanian.
Subsektor hortikultura menjadi yang paling bersinar pada Mei 2026. NTP-nya melonjak 7,08% menjadi 140,58 hanya dalam satu bulan. Sementara subsektor perkebunan rakyat masih menjadi yang tertinggi dengan indeks 164,24, ditopang oleh menguatnya harga komoditas seperti karet dan kakao.
Di sisi lain, sektor peternakan hanya mencatat kenaikan tipis dengan NTP berada di level 103,86.
Yang justru menjadi sorotan adalah sektor perikanan. Ketika sebagian besar subsektor pertanian menikmati peningkatan daya beli, pelaku usaha perikanan malah mengalami penurunan.
Nilai Tukar Petani Perikanan turun 0,64% menjadi 107,01. Rinciannya, Nilai Tukar Nelayan turun 0,47% menjadi 107,48, sementara Nilai Tukar Pembudidaya Ikan turun lebih dalam, yakni 0,90% menjadi 106,25.
Dengan kata lain, berkah dari kenaikan harga sejumlah komoditas pertanian belum sepenuhnya dirasakan oleh para nelayan dan pembudidaya ikan. Saat petani mulai tersenyum karena pendapatan membaik, pelaku sektor perikanan masih menghadapi tantangan yang berbeda.