Belum Kehabisan Bensin, IHSG Melesat 1% Hari Ini

Jakarta, BFDCnews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tampil perkasa pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Setelah kemarin melonjak lebih dari 2%, hari ini IHSG kembali melanjutkan reli dan melesat lebih dari 1%.

Hingga pukul 09.22 WIB, IHSG tercatat naik 1,03% ke level 5.963,01. Penguatan ini menunjukkan optimisme investor masih cukup kuat meski pasar global dibayangi sejumlah sentimen negatif.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sebanyak 356 saham berada di zona hijau, sementara 228 saham melemah dan 375 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,62 triliun dengan volume perdagangan 5,03 miliar saham.

Meski menguat, perjalanan IHSG pagi ini tidak sepenuhnya mulus. Indeks sempat jatuh ke level 5.850,58 sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat lebih dari 1%.

Pasar juga masih memperhatikan pergerakan dana asing. Menariknya, pada perdagangan sebelumnya investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp3,13 triliun di seluruh pasar. Namun tekanan tersebut belum mampu menghentikan laju penguatan IHSG.

Di tengah euforia penguatan IHSG dan rupiah, investor tetap harus waspada. Ada dua sentimen besar dari Amerika Serikat yang berpotensi mengganggu reli pasar, yakni memanasnya konflik Iran-AS dan lonjakan inflasi Negeri Paman Sam.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan tambahan ke sejumlah target di Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran yang dinilai terus berlanjut.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menargetkan kapal-kapal militer AS di Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone. Situasi ini membuat pelaku pasar kembali mencermati risiko geopolitik yang dapat memicu gejolak harga energi dunia.

Presiden AS Donald Trump bahkan memperkeras nada peringatannya kepada Iran. Trump menegaskan bahwa Washington akan kembali melakukan serangan dengan kekuatan besar jika diperlukan.

Tak hanya konflik geopolitik, pasar juga dikejutkan oleh data inflasi AS yang kembali memanas. Inflasi tahunan pada Mei 2026 tercatat mencapai 4,2%, naik dari 3,8% pada April dan menjadi yang tertinggi sejak April 2023.

Secara bulanan, inflasi meningkat 0,5%, didorong terutama oleh lonjakan harga energi yang melesat 23,5% secara tahunan. Kenaikan harga minyak dan energi menjadi faktor utama yang memicu tekanan inflasi tersebut.

Meski begitu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan masih relatif terkendali di level 2,9% secara tahunan.

Menyikapi data tersebut, mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 17 Juni mendatang. Sementara peluang kenaikan suku bunga diperkirakan bergeser ke akhir tahun.

Menariknya, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru melihat adanya peluang penurunan suku bunga dalam jangka panjang. Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi dan membantu menekan tekanan inflasi di masa depan.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi. Namun untuk sementara, investor tampaknya masih memilih fokus pada momentum penguatan yang sedang berlangsung.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.