Jakarta, BFDCnews.com – Pasar keuangan Indonesia menutup bulan Juni 2026 dengan performa yang kurang bersahabat. IHSG ambruk lebih dari 3%, rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS, sementara investor masih dibayangi berbagai sentimen dari dalam maupun luar negeri.
Meski demikian, awal Semester II-2026 masih menyimpan harapan. Sejumlah sentimen penting diperkirakan bakal menentukan apakah pasar mampu bangkit atau justru kembali melanjutkan tren pelemahan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia hari ini dapat disimak pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (30/6/2026) dengan penurunan tajam 3,05% atau 177,6 poin ke level 5.643,19. Berdasarkan data Refinitiv, sepanjang sesi perdagangan IHSG hanya bergerak di zona merah dengan rentang 5.638,57 hingga 5.811,67.
Tekanan jual terlihat hampir merata. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 135 saham yang berhasil menguat, sementara 564 saham melemah dan 99 saham lainnya stagnan. Investor asing pun masih memilih keluar dari pasar dengan membukukan net sell Rp1,04 triliun.
Aktivitas perdagangan mencatat nilai transaksi sebesar Rp15,3 triliun dengan volume 22,7 miliar saham dalam 1,6 juta kali transaksi. Tak ada satu pun sektor yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan setelah anjlok 4,35%, sedangkan sektor kesehatan mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,9%. Saham-saham perbankan juga menjadi salah satu faktor utama yang menyeret laju IHSG.
Koreksi ini semakin menegaskan tekanan yang dialami pasar saham Indonesia sepanjang tahun. Selama Juni, IHSG telah terkoreksi 7,9%, sedangkan sejak awal tahun (year-to-date) penurunannya sudah mencapai 35,49%.
Analis MNC Sekuritas, Herditya, menilai investor masih memilih bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, seperti inflasi Indonesia dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah juga menjadi salah satu faktor yang menambah tekanan di pasar saham.
Di sisi lain, Analis Doo Financial Sekuritas, Lukman Leong, mengatakan kekhawatiran pasar juga datang dari potensi penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI yang hingga kini masih menjadi perhatian pelaku pasar.
“Walau rupiah sudah stabil, namun potensi downgrade status pasar masih ada,” ujarnya
Bukan hanya sentimen domestik, pasar juga masih dibayangi berbagai faktor global, mulai dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah hingga pergerakan dana asing yang masih cenderung fluktuatif.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, bahkan menilai penguatan pasar modal nasional tidak bisa hanya bergantung pada investor ritel. Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak emiten berkapitalisasi besar serta peningkatan partisipasi investor institusi dan investor asing agar pasar menjadi lebih kuat dan berdaya saing.
Tekanan juga terjadi di pasar valuta asing. Setelah menguat selama tiga hari berturut-turut, rupiah akhirnya kembali melemah terhadap dolar AS.
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,22% ke level Rp17.875 per dolar AS. Sejak pembukaan perdagangan, mata uang Garuda memang sudah berada di zona merah dengan dibuka di level Rp17.850/US$, lalu bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.908/US$. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) justru menguat 0,15% ke level 101,257.
Penguatan dolar terjadi karena pelaku pasar global tengah menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan pada Kamis pekan ini. Data tersebut menjadi perhatian karena dalam tiga bulan terakhir pertumbuhan lapangan kerja AS selalu melampaui ekspektasi, sehingga berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28–29 Juli mencapai 68,5%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di level 31,5%.
Di tengah tekanan global, pemerintah terus berupaya menjaga kepercayaan pasar. Pemerintah bersama DPR, Bank Indonesia (BI), dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menggelar rapat koordinasi guna memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam jalur yang sehat. Hingga Mei 2026, defisit APBN baru mencapai 0,7% terhadap PDB dan diperkirakan tetap berada di bawah batas 3% hingga akhir tahun.
“Kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik. Defisit hingga bulan Mei kemarin 0,7% dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun juga masih di bawah 3%, jadi masih sangat terjaga,” ujar Juda.
Sementara itu, dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat berada di level 7,167% pada perdagangan Selasa, sedikit berubah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di 7,138%.
