Dana Asing Keluar Lagi! Net Sell Tembus Rp3,37 Triliun dalam Sepekan

Jakarta, BFDCNews.com – Investor asing kembali ramai-ramai melepas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang perdagangan 20-24 Juli 2026. Total aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp3,38 triliun, berbalik arah dibandingkan pekan sebelumnya yang masih mencatatkan net buy Rp442,05 miliar.

Menariknya, derasnya aksi jual asing itu tidak membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut melemah. Sepanjang pekan, IHSG justru berhasil menguat tipis 0,34% ke level 6.196,43, naik dari posisi 6.175,54 pada pekan sebelumnya. Selama sepekan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.454,31 dan terendah 6.159,15.

Saham-saham unggulan atau blue chip masih menjadi sasaran utama investor asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat aksi jual bersih terbesar senilai Rp854,7 miliar, disusul PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp497,2 miliar, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp310,5 miliar.

Berikut daftar 10 saham dengan net foreign sell terbesar selama 20-24 Juli 2026:

  • PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) – Rp928,1 miliar
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – Rp854,7 miliar
  • PT Astra International Tbk (ASII) – Rp497,2 miliar
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp310,5 miliar
  • PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) – Rp227,6 miliar
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) – Rp160,3 miliar
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – Rp125,3 miliar
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – Rp106,9 miliar
  • PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) – Rp104 miliar
  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) – Rp96,4 miliar

Di sisi lain, aktivitas perdagangan di BEI justru semakin ramai. Rata-rata volume transaksi harian melonjak 66,88% menjadi 43,68 miliar saham, sementara rata-rata nilai transaksi harian naik 41,21% menjadi Rp19,76 triliun.

Meski IHSG berhasil ditutup di zona hijau, kondisi pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya kuat. Data BEI menunjukkan ada 385 saham yang melemah, lebih banyak dibandingkan 351 saham yang menguat, sementara 229 saham bergerak stagnan.

Dari sisi kapitalisasi pasar, sekitar 54% berasal dari saham-saham yang terkoreksi, sedangkan saham yang menguat hanya menyumbang sekitar 40%. Artinya, kenaikan IHSG sepanjang pekan lebih banyak ditopang oleh sejumlah saham tertentu, sementara mayoritas saham—terutama saham-saham berkapitalisasi besar—masih berada di bawah tekanan jual.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.