Jakarta, BFDCnews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu bertahan di tengah tekanan besar yang melanda bursa Asia pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Meski sempat tertekan, pelemahan IHSG terbilang tipis berkat dorongan dari saham sektor bahan baku (basic materials).
Hingga penutupan sesi I pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat turun tipis 2,62 poin atau 0,04% ke level 6.183,16.
Pergerakan pasar cukup dinamis. Sebanyak 349 saham berhasil menguat, sementara 270 saham melemah dan 346 saham bergerak stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp5,22 triliun dengan volume perdagangan 14,05 miliar saham dalam 913.200 kali transaksi. Kapitalisasi pasar BEI tercatat mencapai Rp10.829 triliun.
Dari sisi sektoral, sektor bahan baku menjadi penahan laju pelemahan IHSG dengan kenaikan 0,89%. Selain itu, sektor konsumer primer naik 0,25% dan konsumer non-primer menguat 0,09%.
Sebaliknya, sektor properti menjadi pemberat utama indeks setelah anjlok 3,75%. Tekanan juga terjadi pada sektor utilitas yang turun 1,20%, kesehatan melemah 0,50%, teknologi terkoreksi 0,43%, finansial turun 0,29%, energi melemah 0,23%, serta industri terkoreksi 0,21%.
Dari jajaran saham penggerak IHSG, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi sekitar 2,85 poin terhadap indeks. Disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 1,64 poin, PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) 1,58 poin, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) 1,54 poin, dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) sebesar 1,44 poin.
Beberapa saham lain yang turut memberikan dorongan positif di antaranya PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Timah Tbk (TINS), hingga PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
Namun, sejumlah saham menjadi penekan utama IHSG. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) tercatat memberikan tekanan terbesar dengan memangkas indeks sekitar 7,63 poin. Selanjutnya ada PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) sebesar 3,22 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 2,62 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 2,49 poin, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 2,08 poin.
Tekanan global masih menjadi perhatian investor. Mayoritas bursa Asia bergerak di zona merah setelah aksi jual saham teknologi dan semikonduktor kembali terjadi akibat kekhawatiran terhadap prospek bisnis kecerdasan buatan (AI).
Meski begitu, penguatan saham komoditas serta beberapa saham berkapitalisasi besar di dalam negeri berhasil menjadi penyangga sehingga IHSG tidak ikut terkoreksi dalam seperti sejumlah indeks regional.
Bursa Asia Berjatuhan, Korea Selatan Hentikan Perdagangan
Tekanan di pasar Asia terlihat cukup besar. Korea Exchange (KRX) bahkan sempat menghentikan sementara perdagangan setelah indeks KOSPI anjlok 8,02% atau turun 542,24 poin ke level 6.213,51.
Selain Korea Selatan, sejumlah indeks utama Asia juga mengalami tekanan. Nikkei 225 Jepang turun 4,24% ke 62.177,31, sementara Taiex Taiwan melemah 4,21% ke 41.798,23.
Dari China, Shenzhen Component turun 3,42% ke 13.664,80 dan Shanghai Composite melemah 0,98% ke 3.820,52. Saham CXMT Corp, yang sebelumnya melonjak hingga 466% saat debut di Bursa Shanghai, juga terkoreksi sekitar 7%.
Tekanan turut terasa di kawasan Asia Tenggara. PSEi Filipina melemah 1,21%, FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 0,29%, dan Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi 0,20%.
Sementara itu, beberapa pasar masih mampu bertahan seperti Hang Seng Hong Kong yang naik tipis 0,06% dan NZX 50 Selandia Baru yang menguat 0,26%.
Mengutip Reuters, aksi jual saham di Korea Selatan terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek industri AI. Investor mulai mempertanyakan apakah investasi besar-besaran di sektor tersebut mampu menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi setelah reli saham teknologi dalam dua tahun terakhir.
Sentimen negatif semakin kuat setelah muncul laporan bahwa Nvidia tengah berdiskusi untuk memberikan jaminan pembiayaan sekitar US$250 miliar kepada OpenAI untuk pembangunan pusat data berskala besar. Saham Nvidia sebelumnya turun sekitar 5%, sementara indeks Philadelphia Semiconductor Index (SOX) di Wall Street terkoreksi 2,2%.
Dengan kondisi global yang masih penuh tekanan, investor kini menanti arah pasar berikutnya sambil mencermati kinerja saham komoditas dan emiten besar yang menjadi penopang IHSG.
