IHSG Bangkit! Dibuka Naik 0,54% dan Kembali Sentuh Level 6.200

Jakarta, BFDCNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Jumat (31/7/2026) dengan langkah positif. Indeks dibuka menguat 0,54% ke level 6.219,62, setelah sehari sebelumnya juga berhasil ditutup di zona hijau.

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.00 WIB, IHSG naik dari posisi penutupan sebelumnya di 6.186,36. Aktivitas perdagangan juga mulai ramai dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp165,66 miliar, volume 371,26 juta saham, dan 30.123 kali transaksi.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 333 saham berhasil menguat, 57 saham melemah, sementara 234 saham bergerak stagnan. Komposisi ini menunjukkan tekanan jual mulai mereda dan optimisme investor perlahan kembali ke pasar.

Penguatan hari ini menjadi lanjutan dari performa positif perdagangan Kamis (30/7), ketika IHSG melonjak 1,56% berkat dorongan saham-saham perbankan dan telekomunikasi berkapitalisasi besar. Di sisi lain, rupiah masih berada di bawah tekanan dan ditutup melemah 0,17% ke level Rp18.075 per dolar AS, mengikuti penguatan dolar di pasar global.

Sentimen dari luar negeri juga masih cukup mendukung. Bursa saham Wall Street ditutup menguat dengan indeks Nasdaq melonjak 2,8%, dipimpin kenaikan saham Microsoft yang melesat 15,5% setelah bisnis cloud Azure mencatat pertumbuhan impresif. Selain itu, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat juga menunjukkan tekanan harga mulai mereda, sehingga kembali memunculkan harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Meski demikian, pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see karena sejumlah risiko global belum benar-benar hilang.

Salah satu perhatian utama datang dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Serangan drone terhadap kapal gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, memicu kekhawatiran konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut ikut mendorong harga minyak Brent melonjak hampir 8% hingga menyentuh US$90,74 per barel, sementara aktivitas pengiriman tanker di Selat Hormuz dilaporkan mulai terganggu.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat memberikan sinyal yang beragam. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tercatat hanya 1,5% (annualized), lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar. Namun, konsumsi rumah tangga justru tetap kuat sehingga menunjukkan daya beli masyarakat AS masih cukup solid.

Hari ini, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Asia dan Eropa. China dijadwalkan merilis data PMI Manufaktur Juli, sementara Zona Euro akan mengumumkan data inflasi yang diperkirakan dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia.

Dari Jepang, perhatian pasar tertuju pada keputusan Bank of Japan (BoJ). Meski suku bunga diperkirakan tetap bertahan di level 1%, pelaku pasar akan menunggu sinyal dari Gubernur Kazuo Ueda terkait peluang kenaikan suku bunga berikutnya, terutama di tengah pelemahan yen yang masih berada di dekat level terendah dalam hampir empat dekade.

Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan. Klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat 197.000, lebih baik dari perkiraan pasar sebesar 200.000, sedangkan klaim berkelanjutan turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Dengan kombinasi sentimen positif dari Wall Street, harapan penurunan suku bunga The Fed, serta berbagai risiko geopolitik dan agenda ekonomi global, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berlangsung cukup fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Jika sentimen positif dari luar negeri mampu mengimbangi tekanan geopolitik, bukan tidak mungkin IHSG kembali menutup perdagangan di zona hijau.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.