New York – Setelah ngebut naik empat hari berturut-turut, harga emas akhirnya “ambil napas” di perdagangan Selasa (24/2/2026). Aksi ambil untung mulai terlihat, apalagi trader Asia — terutama dari China — sudah kembali aktif setelah libur Tahun Baru Imlek.
Mengutip Bloomberg, harga emas batangan sempat turun sampai 2,3%. Padahal dalam empat sesi sebelumnya, emas sudah melonjak lebih dari 7%. Lonjakan itu didorong status emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian tarif Amerika Serikat (AS) dan memanasnya situasi di Timur Tengah.
Peneliti Guangdong Southern Gold Market Academy, Song Jiangzhen, menilai pergerakan ini masih wajar. Menurutnya, fluktuasi di kisaran 2% masih tergolong normal untuk kondisi pasar saat ini. Dalam jangka panjang, sentimen emas dinilai tetap positif karena ketidakpastian di Iran dan risiko isolasi AS akibat kebijakan tarifnya.
Pasar memang lagi penuh tanda tanya. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan bea masuk global menjadi 15% setelah Mahkamah Agung membatalkan aturan tarif sebelumnya. Meski tarif 10% sudah resmi berlaku Selasa ini, jadwal kenaikan ke 15% belum jelas, dan itu bikin hubungan dagang dengan kawasan seperti Uni Eropa makin tegang.
Balik Lagi ke Atas US$ 5.000
Sempat jatuh cukup dalam di awal bulan, emas kini berhasil bangkit lagi dan bertahan di atas US$ 5.000 per ons. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh rekor US$ 5.595 di akhir Januari sebelum terkoreksi tajam. Sekarang, lebih dari separuh kerugian itu sudah tertutup.
Sejumlah bank besar seperti Goldman Sachs, Deutsche Bank, dan BNP Paribas melihat peluang harga emas terus pulih. Alasannya? Keraguan terhadap independensi bank sentral AS (The Fed), pergeseran dana dari obligasi pemerintah, serta risiko geopolitik di Timur Tengah yang masih nyata.
Bahkan UBS Global Wealth Management memproyeksikan emas bisa tembus US$ 6.200 per ons dalam beberapa bulan ke depan. Chief Investment Officer mereka, Mark Haefele, menyebut situasi geopolitik bisa memicu lonjakan volatilitas jangka pendek — dan itu biasanya bikin permintaan emas makin tinggi sebagai lindung nilai.
Situasi Timur Tengah Ikut Panaskan Pasar
Di sisi lain, AS mengerahkan kekuatan militer terbesarnya di Timur Tengah sejak 2003 menjelang dimulainya lagi negosiasi nuklir Iran pekan ini. Trump sendiri bilang ia masih mengutamakan jalur diplomasi, tapi memperingatkan dampaknya akan “sangat buruk” jika tak tercapai kesepakatan.
Update harga (09.17 waktu New York):
-
Emas turun 2,4% ke US$ 5.101,98 per ons
-
Perak turun 2,8% ke US$ 85,69
-
Indeks Dolar AS naik 0,2%
Secara historis, emas memang selalu jadi andalan saat situasi global lagi goyah. Tahun 2026 ini, perannya makin krusial karena dua tekanan datang bersamaan: perang dagang babak baru dan eskalasi militer.
Ketidakpastian hukum di AS soal tarif impor bikin investor waswas terhadap mata uang dan obligasi pemerintah. Di saat yang sama, peningkatan tensi militer di Timur Tengah mengingatkan pasar pada risiko krisis energi seperti di masa lalu.
Dalam kondisi seperti ini — ketika inflasi berpotensi naik akibat gangguan perdagangan dan mahalnya biaya impor — emas bukan cuma sekadar komoditas. Buat banyak investor, emas adalah “asuransi” untuk menjaga nilai kekayaan di tengah gejolak global.
