Baru Saja Menguat, Harga Emas Kini Kembali Tersungkur

Jakarta, BFDCnews.com – Harga emas kembali tertekan setelah ketegangan di Timur Tengah memanas lagi. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pasar semakin yakin bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (1/6/2026) ditutup di level US$4.483,29 per troy ons atau turun 1,1%. Koreksi ini sekaligus mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut.

Bahkan, level penutupan tersebut menjadi yang terendah sejak 27 Mei 2026.

Meski begitu, pada perdagangan pagi ini emas mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hingga Selasa (2/6/2026) pukul 06.35 WIB, harga emas tercatat naik tipis 0,04% ke posisi US$4.485,09 per troy ons.

Salah satu penyebab utama pelemahan emas adalah menguatnya indeks dolar AS yang melonjak ke level 99,2 dari posisi sekitar 98 pada akhir Mei. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.

Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai prospek suku bunga tinggi masih menjadi beban bagi harga emas.

“Ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama kemungkinan akan terus menekan emas, kecuali imbal hasil obligasi berhenti naik dan suku bunga mulai stabil atau turun,” ujarnya seperti dikutip Refinitiv.

Di sisi lain, konflik geopolitik juga kembali menjadi sorotan. Iran mengaku telah menyerang pangkalan udara AS sebagai respons atas serangan militer AS terhadap target Iran pada akhir pekan lalu. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dengan cepat.

Ketegangan tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga bank sentral berpotensi mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 54% bahwa AS akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi hingga akhir tahun, berdasarkan data FedWatch CME Group.

Padahal, meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya biasanya berkurang ketika suku bunga tinggi. Alasannya, emas tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi.

Fokus investor kini tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini, serta komentar dari para pejabat Federal Reserve yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan.

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai prospek jangka panjang emas masih cukup positif. Menurutnya, ketika ketegangan geopolitik mulai mereda dan gejolak harga energi berkurang, investor kemungkinan akan kembali memperhatikan faktor-faktor fundamental yang selama ini menopang tren kenaikan emas.

Ia juga memperkirakan bank-bank sentral di berbagai negara masih akan menjadi pembeli bersih emas dalam 12 bulan ke depan, yang dapat menjadi penopang harga logam mulia tersebut.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.