Jakarta, BFDCnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tancap gas di awal perdagangan Jumat (3/7/2026), melanjutkan tren positif yang sudah terlihat pada sesi sebelumnya.
Saat bel pembukaan berbunyi pukul 09.00 WIB, IHSG langsung menguat 1,07% atau naik 61 poin ke level 5.806,17. Tak butuh waktu lama, laju indeks semakin kencang hingga melonjak lebih dari 2,03% dan sempat menyentuh level 5.862.
Aktivitas perdagangan juga cukup ramai. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp124,80 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 169,34 juta saham dalam lebih dari 17 ribu transaksi. Sebanyak 236 saham bergerak di zona hijau, 70 saham melemah, sementara 270 saham lainnya stagnan.
Di awal perdagangan, saham-saham dengan nilai transaksi terbesar ditempati oleh BBCA, BBRI, BMRI, BRPT, dan ANTM.
Penguatan IHSG kali ini juga didorong sentimen positif dari luar negeri, khususnya Amerika Serikat yang akan memperingati hari kemerdekaannya yang ke-250 pada Sabtu (4/7/2026).
Data ketenagakerjaan terbaru dari Negeri Paman Sam memang memberikan sinyal yang beragam. Namun secara umum, data tersebut menunjukkan bahwa ekonomi AS mulai melambat. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya sambil terus mencermati perkembangan inflasi.
Apabila dalam beberapa bulan ke depan pasar tenaga kerja terus melemah dan inflasi semakin terkendali, kebutuhan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pun diperkirakan akan semakin berkurang.
Sentimen positif lainnya datang dari pergerakan indeks dolar AS yang turun ke level 100,856, menjadi posisi terendah sejak 19 Juni 2026. Pelemahan dolar menunjukkan investor mulai mengurangi kepemilikan aset berbasis dolar, kondisi yang berpotensi memberikan angin segar bagi nilai tukar rupiah sekaligus pasar keuangan Indonesia.
Meski demikian, pergerakan bursa saham Asia-Pasifik pada Jumat pagi masih cenderung bervariasi. Investor masih melakukan rotasi dari saham-saham teknologi setelah sektor tersebut melemah di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka turun 0,86%, sementara Topix justru menguat 0,34%.
Bursa Korea Selatan juga bergerak campuran. Indeks Kospi naik 0,97%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terkoreksi 1,12%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 mencatat kenaikan 0,42% pada awal perdagangan.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 23.061, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 23.055,03.
Pergerakan bursa Asia mengikuti perdagangan Wall Street yang berakhir bervariasi pada Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones kembali mencetak rekor penutupan tertinggi setelah laporan tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu optimisme bahwa The Fed berpeluang memangkas suku bunga.
Dow Jones Industrial Average melonjak 594,83 poin atau 1,14% ke level rekor 52.900,07. Bahkan, sepanjang perdagangan indeks tersebut sempat menyentuh rekor intraday baru di posisi 52.903,85.
Sementara itu, indeks S&P 500 nyaris tidak bergerak dan ditutup di level 7.483,24. Berbeda dengan Dow Jones, indeks Nasdaq justru terkoreksi 0,8% ke posisi 25.832,67 akibat tekanan pada saham-saham teknologi dan semikonduktor.
