Dolar AS Kian Melemah, Sentuh Level Terburuk Sejak April 2025

Dolar AS Makin Nanjak, Pagi Ini Tembus Rp17.110

New York – Dolar AS melemah pada perdagangan Rabu (8/4/2026) dan berpotensi mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025. Pelemahan ini terjadi setelah pelaku pasar mulai meninggalkan aset safe haven dan beralih ke saham menyusul kabar gencatan senjata antara AS dan Iran.

Mengutip Investing.com, Kamis (9/4/2026), indeks dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia—turun 1% ke level 98,90. Jika tren ini berlanjut, kinerja dolar bisa menjadi yang paling buruk sejak 21 April 2025.

Sentimen pasar membaik usai gencatan senjata

Pasar merespons positif kabar bahwa AS dan Iran sepakat menghentikan pertempuran selama dua pekan. Kesepakatan ini disebut tercapai setelah serangkaian pembicaraan diplomatik yang juga melibatkan Pakistan sebagai mediator.

Presiden Donald Trump menyebut gencatan senjata itu membuka jalan menuju negosiasi yang lebih luas. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran siap menghentikan operasi pertahanan dan membuka jalur aman di Selat Hormuz, dengan syarat koordinasi dilakukan bersama militer Iran.

Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pasar. Saham berjangka AS melonjak sejak pagi dan Wall Street akhirnya dibuka menguat cukup tajam.

Investor mulai tinggalkan dolar

Analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, mengatakan dolar melemah karena investor mulai mengurangi posisi di aset aman.

Menurut dia, keputusan Trump untuk menunda serangan ke Iran memicu sentimen risk-on secara global, sehingga minat terhadap dolar ikut berkurang.

Ia juga menyoroti bahwa Indeks Dolar kini bergerak di area support yang cukup lemah, yakni sekitar 98,50. Sebelumnya, indeks sempat beberapa kali mencoba menembus level 100, tetapi selalu gagal bertahan di atas area tersebut.

Menurut Morrison, kegagalan berulang ini bisa menjadi sinyal bahwa dolar berisiko mengalami tekanan lanjutan. Bahkan, jika aksi jual makin besar, dolar berpotensi turun ke area terendah akhir Januari, yakni di bawah 96,00.

Meski begitu, pasar tetap mencermati laporan bahwa Iran menuduh Israel melanggar gencatan senjata lewat serangan lanjutan terhadap Hizbullah di Lebanon. Namun sejauh ini, kabar tersebut belum cukup kuat untuk mengubah sentimen positif pasar.

Fokus pasar beralih ke suku bunga dan inflasi

Sebelumnya, dolar AS sempat menguat karena dianggap sebagai aset aman sejak konflik Iran memanas. Selain itu, lonjakan harga minyak juga sempat memicu kekhawatiran inflasi, yang membuat pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Namun setelah gencatan senjata diumumkan, ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga tahun ini kembali meningkat. Hal itu tercermin dari proyeksi pasar yang dipantau lewat CME FedWatch.

Di sisi lain, analis Wells Fargo menilai lonjakan harga minyak masih bisa menjadi tantangan baru bagi inflasi. Menurut mereka, konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu tekanan harga energi yang akhirnya bisa mendorong inflasi konsumen kembali naik.

Wells Fargo memperkirakan inflasi berbasis PCE—indikator favorit The Fed—bisa kembali menguat pada kuartal kedua. Artinya, peluang pemangkasan suku bunga masih sangat bergantung pada arah data ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Karena itu, pasar kini menaruh perhatian besar pada dua data penting minggu ini, yakni laporan inflasi PCE dan data tenaga kerja AS (non-farm payrolls). Kedua data ini akan menjadi petunjuk penting untuk membaca arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Euro, poundsterling, dan yen ikut menguat

Melemahnya dolar juga mendorong penguatan mata uang utama lainnya. Euro naik 0,7% ke level 1,1680, sementara poundsterling menguat 1% ke 1,3424.

Sementara itu, yen Jepang juga ikut terapresiasi. Pasangan USD/JPY turun 0,8% ke 158,40, menjauh dari level psikologis 160 yang sebelumnya sempat jadi perhatian pasar.

Di tengah situasi ini, pelaku pasar juga masih mewaspadai dampak lanjutan dari gejolak energi global. Kawasan Asia dan sebagian Eropa masih sangat bergantung pada pasokan minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz, sehingga setiap perkembangan di Timur Tengah tetap akan menjadi faktor penting bagi pasar keuangan dunia.

Analis JPMorgan menilai dampak inflasi dari lonjakan harga energi mulai terasa berbeda di tiap negara. Beberapa negara sudah mulai mengalami kenaikan inflasi, terutama yang sangat sensitif terhadap harga bahan bakar, sementara negara lain belum merasakan dampaknya secara penuh.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.