Jakarta, BFDCnews.com – Nilai tukar rupiah langsung melemah di awal pekan, Senin (4/5/2026). Dibuka di level Rp17.320 per dolar AS, rupiah turun tipis sekitar 0,09% dan lanjutkan tren pelemahan dari hari sebelumnya.
Bahkan, posisi ini jadi salah satu level terlemah rupiah sepanjang sejarah. Sebelumnya, rupiah juga sudah ditutup melemah di Rp17.305 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) juga masih menunjukkan penguatan tipis. Artinya, dolar lagi cukup “perkasa” dibanding mata uang lain di dunia.
Dari dalam negeri, pasar lagi nunggu data inflasi April 2026 yang bakal dirilis hari ini. Perkiraannya, inflasi bulanan ada di sekitar 0,43%, dengan inflasi tahunan di kisaran 2,7%.
Kenaikan ini diprediksi datang dari harga bahan pokok yang naik, seperti beras, gula, minyak goreng, sampai daging dan cabai. Ditambah lagi, harga BBM nonsubsidi juga ikut naik, jadi makin menambah tekanan.
Selain itu, pelemahan rupiah sendiri juga bikin harga barang impor jadi lebih mahal, yang ujungnya ikut mendorong inflasi.
Data inflasi ini penting banget karena bisa memengaruhi langkah Bank Indonesia ke depan, terutama soal kebijakan suku bunga dan stabilitas rupiah.
Dari luar negeri, situasi global juga masih bikin pasar waspada. Presiden AS Donald Trump dikabarkan bakal ambil langkah untuk membebaskan kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah ini bikin pelaku pasar tetap hati-hati, apalagi kalau sampai berdampak ke jalur energi global, harga minyak, dan pergerakan dolar ke depan.
Intinya, kombinasi faktor dalam negeri dan global lagi sama-sama “menekan” rupiah hari ini.
