SINGAPURA — Harga obligasi pemerintah global lagi tertekan dan berpotensi mencatat kerugian bulanan terbesar dalam lebih dari setahun. Penyebabnya? Investor makin waswas sama dampak perang berkepanjangan di Timur Tengah, terutama ke inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Meski begitu, sempat ada sedikit perbaikan di obligasi jangka pendek pada Senin (30/3/2026). Ini nunjukin kalau pasar mulai geser fokus ke dampak ekonomi dari konflik yang belum kelihatan tanda-tanda bakal mereda.
Di AS, imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun—yang biasanya bergerak berlawanan dengan harga—diperkirakan naik sekitar 50 basis poin bulan ini, jadi kenaikan terbesar sejak Oktober 2024. Tapi di perdagangan Asia, sempat turun tipis ke level 3,8770%.
Hal serupa juga terjadi di negara lain. Imbal hasil obligasi Australia tenor 3 tahun naik sekitar 50 bps (tertinggi dalam 17 bulan), sementara Jepang tenor 2 tahun naik 12,5 bps sepanjang Maret.
Menurut analis dari OCBC, Moh Siong Sim, sekarang pasar mulai benar-benar ngerasain dampaknya.
Awalnya, kekhawatiran cuma soal inflasi. Tapi sekarang, risiko stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat—mulai jadi perhatian utama.
Harga minyak yang masih bertahan di atas US$100 per barel jadi salah satu pemicu. Kondisi ini bikin investor mulai memperkirakan suku bunga global bakal tetap tinggi lebih lama.
Akibatnya, daya tarik obligasi sebagai aset aman jadi berkurang.
Saat ini, investor memperkirakan Federal Reserve bakal menahan suku bunga sepanjang tahun ini. Sementara itu, European Central Bank dan Bank of England diprediksi masih akan menaikkan suku bunga beberapa kali di sisa 2026.
Imbal hasil obligasi AS tenor 5 tahun diperkirakan naik sekitar 51 bps bulan ini, sementara tenor 10 tahun naik sekitar 43 bps—menandakan tekanan yang cukup besar di pasar obligasi.
Menurut Eugene Leow dari DBS, minat investor terhadap lelang obligasi AS juga terlihat menurun.
“Investor terlihat memilih wait and see di tengah ketidakpastian soal konflik Iran,” ujarnya.
Di kawasan lain, imbal hasil obligasi 10 tahun Australia naik 42 bps (tertinggi dalam 17 bulan), sementara Jepang naik 24,5 bps—kenaikan paling tajam sejak Desember.
Menariknya, obligasi pemerintah China relatif lebih stabil. Investor menilai China lebih tahan terhadap gejolak harga minyak, karena punya cadangan besar, dominasi di energi hijau, dan inflasi yang masih rendah.
Untuk tenor 10 tahun, kenaikannya tipis. Sementara obligasi tenor 2 tahun justru naik lebih dari 10 bps, berpotensi jadi kenaikan bulanan terbesar sejak Desember 2024.