BFDCnews.com – Badan Pusat Statistik (Badan Pusat Statistik) mencatat ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai US$22,53 miliar. Angka ini naik 3,10% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, dari total tersebut ekspor migas tercatat US$1,28 miliar atau turun 11,84%. Sementara ekspor nonmigas juga ikut turun 2,52% menjadi US$21,25 miliar.
Penurunan di sektor nonmigas ini salah satunya dipicu oleh turunnya ekspor komoditas lemak dan minyak nabati yang anjlok cukup dalam.
Kalau dilihat secara kumulatif, ekspor Indonesia dari Januari sampai Maret 2026 mencapai US$66,85 miliar, sedikit naik 0,34% dibanding tahun sebelumnya.
Di periode ini, ekspor migas masih turun, tapi nonmigas justru tumbuh tipis 0,98% dan jadi penopang utama.
Sektor industri pengolahan jadi motor utama ekspor nonmigas, dengan kontribusi besar dari komoditas seperti nikel, bahan kimia organik, CPO, hingga semikonduktor.
Dari sisi pasar, ekspor Indonesia masih didominasi tiga negara utama: China, Amerika Serikat, dan India. Tiga negara ini menyerap hampir 44% total ekspor nonmigas Indonesia di awal 2026.
Intinya, ekspor masih tumbuh meski tipis, dengan sektor industri pengolahan tetap jadi penopang utama di tengah tekanan beberapa komoditas.
