BFDCnews.com – Kelompok OPEC+ dikabarkan bakal tetap naikin target produksi minyak di bulan Juni. Tapi, di tengah konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz, kenaikan ini kemungkinan cuma jadi “formalitas” aja.
Dilansir dari Investing, sekitar tujuh negara inti OPEC+ sepakat buat nambah produksi sekitar 188 ribu barel per hari. Ini jadi kenaikan ketiga berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir.
Negara yang terlibat antara lain Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Sementara Uni Emirat Arab sudah resmi keluar dari kelompok per 1 Mei.
Masalahnya, kondisi di lapangan lagi nggak ideal. Konflik Iran yang pecah sejak akhir Februari, ditambah penutupan Selat Hormuz, bikin ekspor minyak dari kawasan Teluk jadi terganggu.
Padahal, negara-negara di kawasan itu sebelumnya jadi andalan buat ningkatin produksi.
Akibat gangguan ini, harga minyak sempat melonjak tinggi, bahkan tembus di atas US$125 per barel—level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kekhawatiran soal pasokan bahan bakar, termasuk avtur, juga mulai muncul.
Meski begitu, OPEC+ tetap jalan dengan rencana mereka, seolah-olah situasi masih “business as usual”. Artinya, mereka tetap siap nambah pasokan, terutama kalau konflik nanti mulai mereda.
Di sisi lain, produksi minyak OPEC+ justru sempat turun cukup dalam di Maret, terutama dari Irak dan Arab Saudi karena ekspor yang terhambat. Rusia juga ikut memangkas produksi setelah infrastrukturnya kena serangan drone.
Kabar baiknya, harga minyak sempat turun lagi setelah Iran ngirim proposal damai ke mediator. Harapan adanya kesepakatan dengan AS bikin pasar sedikit lebih tenang.
Sebagai gambaran, harga minyak AS sempat turun sekitar 3% ke US$101,94 per barel, sementara Brent juga ikut melemah ke kisaran US$108.
Intinya, meski produksi mau ditambah, kondisi global yang masih panas bikin dampaknya ke pasar belum tentu langsung terasa.