Rupiah Balik Melemah, Kurs Dolar AS Sentuh Rp17.640

dolar

Jakarta, BFDCnews.com — Rupiah balik lagi ke zona merah lawan dolar Amerika Serikat (AS) di penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026).

Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.640/US$ atau melemah 0,23%. Padahal sehari sebelumnya, Rabu (20/5/2026), mata uang Garuda sempat menguat 0,54% ke posisi Rp17.600/US$.

Pergerakan rupiah hari ini juga cukup liar. Di awal perdagangan rupiah masih dibuka di Rp17.600/US$, tapi sempat makin jeblok sampai Rp17.685/US$ sebelum akhirnya sedikit membaik menjelang pasar tutup.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ikut menguat. Per pukul 15.00 WIB, DXY naik 0,22% ke level 99,308.

Kuatnya dolar AS ini jadi salah satu faktor yang bikin rupiah kembali tertekan. Pelaku pasar lagi ramai memburu greenback karena muncul ekspektasi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), masih punya peluang menaikkan suku bunga.

Risalah rapat terakhir The Fed yang dirilis Rabu menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih mendukung kenaikan suku bunga kalau inflasi AS belum juga turun ke target 2%.

Berdasarkan data LSEG, pasar sekarang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 70%. Bahkan pasar juga mulai menghitung peluang kenaikan suku bunga paling lambat pada Maret 2027.

Sentimen global lainnya datang dari Presiden AS Donald Trump yang bilang negosiasi dengan Iran sudah masuk tahap akhir. Meski begitu, Trump juga mengingatkan AS bisa mengambil langkah lebih keras kalau kesepakatan gagal tercapai.

Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sebenarnya sudah bergerak cepat dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam RDG Rabu (20/5/2026).

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai langkah BI ini sudah tepat dan menunjukkan otoritas moneter tidak mau telat merespons gejolak pasar.

Menurutnya, kalau BI lambat bergerak, biaya untuk menstabilkan rupiah bisa jadi jauh lebih mahal.

“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan cuma soal kenaikan suku bunga, tapi juga sinyal kalau policy anchor Indonesia masih dijaga,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).

Fakhrul juga melihat tekanan yang terjadi saat ini bukan sekadar volatilitas biasa, melainkan kondisi yang memang butuh respons cepat dari bank sentral. Ia optimistis langkah BI bisa jadi titik balik buat rupiah setelah sebelumnya terus tertekan.

Ia memproyeksikan rupiah berpotensi menguat bertahap ke kisaran Rp17.300/US$, bahkan bisa bergerak menuju level keseimbangan baru di sekitar Rp16.800/US$ jika koordinasi kebijakan berjalan baik.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.