Jakarta — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ambruk hari ini dan menembus level psikologis penting. BBCA ditutup turun 3,73% ke Rp6.450, level terendah dalam hampir lima tahun terakhir.
Berdasarkan catatan historis, terakhir kali saham BBCA di bawah Rp6.450 adalah pada 21 Agustus 2021. Artinya, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini kini kembali ke level yang sudah lama nggak disentuh pasar.
Tekanan jual datang cukup deras, terutama karena aksi keluar investor asing dari saham perbankan, termasuk BBCA yang sebelumnya jadi favorit global fund. Hal ini juga bikin IHSG sempat tertekan sepanjang hari.
Secara teknikal, tren BBCA lagi lemah banget setelah gagal mempertahankan area support menengah. Sejak puncaknya di atas Rp10.000, saham ini terus membentuk pola lower high dan lower low, menandakan tren turun masih dominan.
Sejak mencetak penutupan tertinggi di Rp10.750 pada 21 Oktober 2025, BBCA sudah anjlok sekitar 66,7%. Pasar sekarang lagi fokus melihat apakah level Rp6.450 bisa jadi support baru atau malah membuka peluang turun lebih jauh.
Kalau Rp6.450 mampu bertahan, ada kemungkinan technical rebound menuju Rp6.800–Rp7.000. Tapi kalau ditembus dengan volume besar, risiko turun lanjut ke Rp6.000 bahkan Rp5.600 terbuka lebar. Dengan tekanan jual yang masih kuat, tren jangka pendek BBCA masih bearish.
Dibuang Asing
Anjloknya BBCA juga sejalan dengan tekanan jual dari investor asing yang besar banget. Sepanjang tahun ini hingga 30 Maret 2026, net foreign sell BBCA sudah mencapai Rp20,68 triliun, jauh di atas saham lain.
Aksi jual asing di BBCA bahkan nyumbang lebih dari dua pertiga total net foreign sell di seluruh pasar. Total net sell asing di tiga bulan pertama 2026 mencapai Rp30,99 triliun.
Sebagai perbandingan, saham yang urutan kedua net sell asing terbesar adalah Bumi Resources (BUMI), tapi nilainya cuma sekitar sepertiga dari net sell BBCA. Net sell saham bank jumbo lain juga masih jauh di bawah BBCA.
