Jakarta — Konflik antara Iran dengan sekutu AS dan Israel masih belum menunjukkan tanda-tanda reda. Walaupun wacana damai terus dibahas, situasi di lapangan masih panas dan berdampak ke pasokan energi global.
Harga minyak pun ikut melonjak. Pada Jumat (27/3), minyak Brent kontrak Mei 2026 ditutup di US$112,57 per barel, sementara WTI ada di US$99,64 per barel. Kenaikan ini berpotensi bikin inflasi naik dan daya beli masyarakat tertekan.
Kalau inflasi naik, ruang buat Bank Indonesia menurunkan suku bunga jadi makin sempit. Ditambah lagi, nilai tukar yang fluktuatif juga jadi tantangan buat stabilitas sektor keuangan.
Dari sisi perbankan, kondisi ini bisa berdampak ke permintaan kredit dan kualitas aset. Daya beli yang melemah dan ekspansi bisnis yang tertahan bisa bikin pertumbuhan kredit ke depan ikut melambat.
Meski begitu, pelaku industri menilai kondisi perbankan masih cukup kuat. Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, bilang fundamental perbankan masih terjaga, mulai dari kredit, likuiditas, sampai permodalan.
Ke depan, bank akan lebih fokus ke prinsip kehati-hatian, terutama dalam manajemen risiko dan menjaga kualitas aset.
Data OJK menunjukkan, kredit per Januari 2026 sudah mencapai Rp8.557 triliun atau tumbuh 9,96% secara tahunan, dengan dorongan utama dari kredit investasi.
Dari sisi dana, DPK juga masih tumbuh 13,48% jadi Rp10.076 triliun. Likuiditas bank juga masih longgar, terlihat dari rasio LCR di 197,92% dan NSFR 129,06%, jauh di atas batas minimum.
Permodalan juga masih kuat, dengan CAR di level 25,87%.
Untuk menghadapi risiko ke depan, bank mulai pasang strategi antisipasi. Mulai dari stress test di sektor-sektor yang sensitif terhadap harga energi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, penyaluran kredit juga makin diperketat dengan pendekatan risk-based pricing, plus penguatan sistem peringatan dini supaya kualitas aset tetap terjaga.
Manajemen risiko nilai tukar juga diperketat lewat strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa.
OJK sendiri menilai kondisi perbankan masih positif, didukung modal dan likuiditas yang cukup kuat untuk menyerap potensi risiko.
Bahkan, Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) menunjukkan optimisme masih terjaga. Indeksnya ada di level 56 pada kuartal I-2026, yang artinya masih di zona optimistis.
Ke depan, kinerja perbankan diperkirakan tetap solid, meskipun tekanan global bisa meningkat. Kuncinya tetap di disiplin manajemen risiko di tengah kondisi yang nggak pasti.
Langkah antisipasi perbankan:
- Stress test di sektor sensitif energi
- Perketat penyaluran kredit (risk-based pricing)
- Perkuat sistem peringatan dini
- Perketat pengelolaan risiko nilai tukar
