BFDCnews.com, Jakarta — Harga bahan baku plastik lagi naik, dan efeknya mulai terasa ke mana-mana, termasuk ke minyak goreng kemasan premium.
Menurut Kementerian Perdagangan (Kemendag), kenaikan harga biji plastik (nafta) bikin biaya produksi ikut naik, terutama untuk produk yang pakai kemasan plastik. Dampaknya? Harga minyak goreng premium ikut keangkat.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, bilang kalau minyak goreng kemasan premium sekarang mulai terdampak karena kemasannya pakai plastik berkualitas.
Intinya, bukan cuma isi minyaknya yang berpengaruh—kemasannya juga ikut “nyumbang” ke kenaikan harga.
Nggak cuma minyak goreng
Kemendag juga bilang, efek ini nggak cuma ke minyak goreng aja. Produk lain yang pakai kemasan plastik kemungkinan bakal ikut kena dampaknya juga.
Jadi kalau harga plastik terus naik, bisa jadi banyak barang kemasan lain yang ikut naik pelan-pelan.
Minyakita masih aman
Di sisi lain, harga Minyakita justru relatif stabil, bahkan cenderung turun dalam setahun terakhir.
- Secara tahunan turun sekitar 7,18%
- Tapi naik tipis 0,66% dibanding bulan lalu
- Per 17 April 2026, harganya sekitar Rp15.982 per liter
Soal isu kelangkaan
Kemendag juga menepis kabar soal minyak goreng langka. Mereka bilang stok masih aman, baik di ritel modern maupun pasar tradisional.
Memang sempat ada sedikit penurunan pasokan ke pasar rakyat dalam seminggu terakhir, tapi itu lebih karena penyesuaian dari pelaku usaha akibat biaya kemasan yang naik—bukan karena barangnya hilang dari pasar.
Selain itu, distribusi Minyakita juga kadang disesuaikan dengan program pemerintah lain, tapi tetap diusahakan supaya pasokan ke masyarakat tetap terjaga.
Distribusi masih jalan
Secara total, penyaluran minyak goreng lewat skema Domestic Market Obligation (DMO) sudah mencapai sekitar 455 ribu ton sejak akhir Desember 2025 sampai pertengahan April 2026.
Sebagian besar distribusi ini ditopang oleh BUMN pangan seperti:
- Perum Bulog (sekitar 40%)
- ID Food (sekitar 10%)
