BFDCnews.com, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bilang, sekarang banyak bank digital yang mulai masuk fase “cuan”, nggak cuma jor-joran cari nasabah lagi.
Kepala Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut per Maret 2026, kinerja bank digital mulai kelihatan solid. ROA-nya sudah di 2,87%, bahkan lebih tinggi dari rata-rata industri yang ada di 2,50%.
Nggak cuma itu, Net Interest Margin (NIM) bank digital juga tinggi banget, tembus 13,9%—jauh di atas industri yang cuma sekitar 4,49%. Artinya, kemampuan mereka buat ngasilin pendapatan dari bunga udah makin kuat.
Menurut Dian, ini jadi tanda kalau bank digital mulai berbenah. Dari yang awalnya fokus bakar uang buat akuisisi nasabah, sekarang mulai beralih ke strategi yang lebih “sehat” seperti monetisasi ekosistem, cross-selling, sampai ngejar dana murah (CASA) dan penyaluran kredit yang lebih hati-hati.
Meski begitu, belum semua bank digital punya kondisi yang sama. Ada yang sudah stabil dan rutin cetak laba, tapi ada juga yang masih dalam tahap ngejar pertumbuhan biar bisa profit secara konsisten.
“Intinya, industri ini lagi geser dari yang tadinya growth dulu, sekarang ke arah growth yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Salah satu contoh datang dari PT Bank Neo Commerce Tbk. Dalam dua tahun terakhir, bank ini berhasil nunjukin performa positif dengan laba yang terus konsisten, termasuk laba bersih sekitar Rp565,69 miliar di 2025.
Kinerja itu didukung dari kualitas aset yang makin bagus, manajemen risiko yang lebih rapi, dan efisiensi operasional yang terus ditingkatkan.
Direktur Utamanya, Eri Budiono, bilang ke depan mereka tetap akan tumbuh, baik dari jumlah nasabah maupun penyaluran kredit. Tapi kali ini lebih selektif dan fokus ke kualitas.
“Yang penting bukan cuma tumbuh, tapi tumbuh yang sehat dan bisa terus menghasilkan,” kira-kira begitu arah strategi mereka ke depan.
