Bank Sentral Kompak Borong Emas Lagi, China Ikutan Serbu

Jakarta, BFDCnews.com – Bank sentral di berbagai negara masih rajin memborong emas meski harga logam mulia lagi naik-turun cukup tajam. Pelaku pasar pun masih memilih aset aman sambil menunggu kepastian arah konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Pada Senin (11/5/2026) pukul 12.50 WIB, harga emas berada di level US$ 4.659,55 per troy ons atau turun 1,13%.

Padahal di akhir pekan lalu, tepatnya Jumat (8/5/2026), harga emas justru ditutup menguat 0,62% ke posisi US$ 4.714,42 per troy ons. Level itu jadi yang tertinggi sejak 22 April 2026 atau lebih dari dua pekan terakhir.

Secara mingguan, harga emas masih mencatat kenaikan 2,18%. Penguatan ini sekaligus memutus tren pelemahan yang sempat terjadi selama dua pekan berturut-turut.

Sebelumnya, harga emas sempat tertekan akibat lonjakan harga minyak. Kenaikan harga energi dikhawatirkan memicu inflasi lebih tinggi sehingga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), bakal makin sulit menurunkan suku bunga.

Meski begitu, penurunan harga emas masih tertahan karena permintaan dari bank sentral dunia tetap tinggi.

Data World Gold Council (WGC) menunjukkan total permintaan emas global sepanjang kuartal I-2026 mencapai 1.231 ton atau naik 2% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari sisi nilai, kenaikannya bahkan jauh lebih besar. Nilai permintaan emas global melonjak 74% menjadi US$ 193 miliar, tertinggi sepanjang sejarah.

Permintaan paling besar datang dari pembelian emas batangan dan koin. Volumenya mencapai 474 ton atau naik 42% secara tahunan. Investor Asia jadi pendorong utama setelah ramai-ramai masuk ke instrumen investasi emas di tengah pasar global yang lagi volatil.

Permintaan ETF emas juga masih tumbuh. Sepanjang kuartal I-2026, pembelian ETF emas bertambah 62 ton. Meski begitu, angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 230 ton karena sempat terjadi arus keluar dana besar dari ETF berbasis AS pada Maret lalu.

Di sisi lain, harga emas yang makin mahal bikin konsumsi perhiasan ikut tertekan. Volume permintaan perhiasan turun 23% dibanding tahun lalu. Namun secara nilai, belanja perhiasan justru masih naik 31%. Artinya, masyarakat tetap membeli emas meski harganya tinggi.

Permintaan dari sektor teknologi juga ikut naik. Penggunaan emas untuk industri teknologi bertambah 1% menjadi 82 ton. Kenaikan ini banyak didorong ekspansi infrastruktur artificial intelligence (AI) yang meningkatkan kebutuhan komponen elektronik berbasis emas.

Bank sentral dunia pun masih aktif menambah cadangan emas mereka. Sepanjang kuartal I-2026, pembelian bersih bank sentral mencapai 244 ton atau naik 3% dibanding tahun lalu, meski beberapa negara mulai melakukan penjualan.

China jadi salah satu negara yang paling konsisten menambah cadangan emas tahun ini. Hingga Maret 2026, cadangan emas China mencapai 2.313,5 ton atau sekitar 9,1% dari total devisanya. Posisi ini membuat China jadi pemilik emas terbesar keenam di dunia, mendekati Rusia yang memiliki 2.304,7 ton.

Amerika Serikat masih memegang posisi sebagai pemilik cadangan emas terbesar dunia dengan total 8.133,5 ton. Jumlah itu setara 83,3% dari total cadangan devisanya. Di bawah AS ada Jerman dengan 3.350,3 ton, IMF 2.814 ton, Italia 2.451,8 ton, dan Prancis 2.437 ton.

Dari sisi pembelian terbaru, Polandia jadi negara paling agresif menambah cadangan emas bank sentral pada 2026. Hingga Februari, Polandia membeli 11,2 ton emas. Uzbekistan menyusul dengan pembelian 8,7 ton, sementara China membeli 5 ton emas pada periode yang sama.

Selain itu, Guatemala menambah 2,5 ton dan Republik Ceko membeli 1,7 ton emas. India, Singapura, Mesir, Serbia, hingga Kyrgyzstan juga tercatat masih menambah cadangan emas mereka meski jumlahnya lebih kecil.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.