IHSG Hijau Lagi Jelang Sesi I Ditutup, Tanda Rebound?

ihgs 2

Jakarta, BFDCnews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil balik ke zona hijau pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (22/5/2026), setelah sempat jeblok parah dan meninggalkan level psikologis 6.000 di awal perdagangan.

Saat jeda makan siang, IHSG ditutup menguat 0,30% ke level 6.113,44 atau naik sekitar 18,50 poin.

Sebelumnya, IHSG sempat terperosok ke level terendah harian di 5.966,86 pada awal sesi. Namun perlahan tekanan jual mulai mereda dan indeks berhasil bangkit lagi. Adapun level tertinggi IHSG di sesi I tercatat di 6.135,12.

Nilai transaksi hingga akhir sesi I mencapai Rp10,16 triliun dengan volume perdagangan 18,5 miliar saham dan frekuensi transaksi tembus 1,12 juta kali.

Meski IHSG menghijau, pergerakan saham masih campur aduk. Sebanyak 346 saham naik, 372 saham turun, dan 241 saham bergerak stagnan. Sementara kapitalisasi pasar masih berada di bawah Rp11.000 triliun, tepatnya Rp10.570 triliun.

Berdasarkan data Refinitiv, sektor utilitas jadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 1,28%, disusul sektor bahan baku 1,22% dan industrial 0,66%. Di sisi lain, sektor konsumer primer justru jadi yang paling tertekan dengan penurunan 0,74%.

Dari jajaran saham penggerak indeks, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk jadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi 3,87 poin. Disusul PT Ekamas Mora Republik Tbk sebesar 3,59 poin, PT Impack Pratama Industri Tbk sebesar 2,88 poin, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk sebesar 2,46 poin.

Selain itu, saham seperti PT Barito Pacific Tbk, PT Merdeka Copper Gold Tbk, PT Bakrie & Brothers Tbk, PT Bumi Resources Minerals Tbk, PT Bumi Resources Tbk, hingga PT Adaro Andalan Indonesia Tbk juga ikut menopang laju indeks.

Namun penguatan IHSG masih tertahan tekanan dari saham-saham big caps. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk jadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 7,30 poin. Disusul PT Bank Central Asia Tbk sebesar 7,02 poin dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 6,26 poin.

Selain itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, PT Astra International Tbk, PT Amman Mineral Internasional Tbk, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, hingga PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk juga masih membebani IHSG.

Secara teknikal, area 6.000 masih jadi level psikologis penting buat IHSG. Rebound di sesi I ini sedikit memberi harapan panic selling mulai mereda, meski volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi sepanjang perdagangan.

Analis MNC Sekuritas, Herditya mengatakan secara teknikal IHSG masih berada dalam tren pelemahan. Salah satu pemicunya berasal dari efek rebalancing MSCI yang membuat saham-saham berkapitalisasi besar mulai ditinggalkan investor.

Senada, Analis Doo Financial, Lukman Leong menilai efek rebalancing MSCI masih terasa dan memicu tekanan jual dari investor asing.

Selain itu, rupiah yang masih relatif lemah juga membuat investor global cenderung lebih hati-hati terhadap aset Indonesia. Akibatnya, pergerakan IHSG terlihat tertinggal dibanding bursa Asia lainnya.

Pasar juga sedang mencermati rencana ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang memicu kekhawatiran soal ketidakpastian regulasi dan potensi kontrol negara terhadap sektor swasta.

Rencana sentralisasi ekspor lewat satu badan ini bahkan ikut disorot lembaga pemeringkat global. S&P Global Ratings memperingatkan kebijakan tersebut bisa memunculkan risiko terhadap ekspor, penerimaan negara, hingga neraca pembayaran Indonesia.

Sementara Moody’s menilai kebijakan itu memang berpotensi mendukung aliran devisa masuk, tetapi di sisi lain juga bisa memicu distorsi pasar dan menekan sentimen investor.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.