Jakarta, BFDCnews.com – Rupiah mengawali perdagangan jelang akhir pekan dengan langkah mantap. Pada Jumat (12/6/2026), mata uang Garuda dibuka menguat 0,42% ke level Rp17.900 per dolar AS, seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Penguatan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya, Kamis (11/6/2026), rupiah sempat tertekan dan ditutup melemah 0,14% di posisi Rp17.975 per dolar AS.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia juga masih berada di zona merah. Hingga pukul 09.00 WIB, DXY tercatat turun tipis 0,03% ke level 99,827, melanjutkan pelemahan 0,09% pada perdagangan sebelumnya.
Lesunya dolar AS kali ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran pada saat-saat terakhir. Trump bahkan mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Teheran mulai menunjukkan arah positif dan berpotensi menghasilkan kesepakatan.
Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pasar. Selama ini, dolar AS biasanya menjadi aset buruan investor saat ketidakpastian global meningkat. Namun ketika peluang perdamaian membesar, investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko, sehingga permintaan terhadap dolar berkurang.
Trump juga menyebut proses negosiasi telah mencapai tingkat tertinggi pemerintahan Iran dan mendapat dukungan dari sejumlah kekuatan regional. Hal ini semakin memperkuat optimisme pasar bahwa ketegangan antara kedua negara bisa mereda.
Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran kemungkinan besar akan menerima kesepakatan tersebut. Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap dolar AS semakin besar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat pada perdagangan hari ini.
