Jakarta, BFDCnews.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp18.055 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 0,31% dibanding penutupan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar global, penguatan dolar AS, serta sikap investor yang cenderung memilih aset aman (safe haven). Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan kebijakan moneter dan dinamika ekonomi global.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mengoptimalkan strategi triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, BI juga memperkuat operasi moneter melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menjaga likuiditas sekaligus menarik aliran dana asing ke pasar keuangan domestik.
Langkah tersebut dilakukan agar pergerakan rupiah tetap berada pada level yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. BI juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fondasi utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan data ekonomi global dan arah kebijakan bank sentral utama dunia yang berpotensi memengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Selama sentimen eksternal masih bergejolak, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
BFDCnews Insight
- Kurs penutupan: Rp18.055 per dolar AS.
- Pergerakan: Rupiah melemah sekitar 0,31%.
- Fokus pasar: Penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.
- Respons BI: Triple intervention, penguatan SRBI, serta menjaga stabilitas pasar keuangan.
