Baru Mau Pulih, IHSG dan Rupiah Sudah Dihadang 8 Masalah Besar

Baru Mau Pulih, IHSG dan Rupiah Sudah Dihadang 8 Masalah Besar

Jakarta, BFDCnews.com – Pasar keuangan Indonesia tampil campur aduk di perdagangan terakhir sebelum long weekend, Rabu (13/5/2026). IHSG jeblok hampir 2%, sementara rupiah malah sukses menguat lawan dolar Amerika Serikat (AS). Tapi kalau dilihat selama sepekan, kondisinya masih kurang oke karena IHSG ambruk 3,5% dan rupiah melemah 0,58%.

Perdagangan Rabu kemarin jadi penutupan terakhir sebelum libur panjang. Nah, buat hari ini Senin (18/5/2026), pasar diperkirakan masih bakal bergerak liar alias volatil.

IHSG sendiri ditutup ambles gara-gara pasar kecewa dengan hasil review indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Beberapa saham besar Indonesia resmi didepak dari indeks global mereka, bikin sentimen pasar langsung memburuk.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG turun 135,58 poin atau 1,98% ke level 6.723,32. Saham yang merah jauh lebih banyak, yakni 416 saham turun, 239 naik, dan 163 stagnan.

Nilai transaksi juga lumayan besar, mencapai Rp19,79 triliun dengan volume perdagangan hampir 39 miliar saham.

Mayoritas sektor ikut terseret turun, terutama infrastruktur, barang baku, teknologi, dan energi. Cuma sektor industri yang masih sanggup bertahan di zona hijau.

Biang kerok utama tekanan IHSG datang dari saham-saham yang keluar dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) jadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi minus 15,51 poin. Disusul PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang menekan indeks hingga 15,13 poin.

Selain itu, ada juga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang ikut bikin IHSG makin tertekan.

Kalau dilihat dari harga sahamnya, penurunannya juga nggak main-main. TPIA ambles hampir 15%, BREN turun lebih dari 11%, DSSA melemah 11%, CUAN jatuh 10%, dan AMMN turun sekitar 9%.

Tekanan juga terasa di saham lain yang keluar dari MSCI Small Cap, seperti BANK, MIDI, BSDE, sampai AALI yang kompak ditutup melemah.

Kondisi ini nunjukkin kalau sentimen MSCI masih jadi momok besar buat pasar saham Indonesia. Soalnya, keluarnya saham dari indeks global biasanya bikin investor asing, terutama dana pasif yang ngikutin MSCI, melakukan penyesuaian portofolio.

Sementara itu dari pasar mata uang, rupiah justru berhasil balik menguat lawan dolar AS.

Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.460/US$ atau naik 0,17%. Padahal di awal perdagangan sempat melemah ke Rp17.500/US$.

Penguatan ini cukup penting karena rupiah mulai menjauh lagi dari level psikologis Rp17.500/US$, sekaligus memutus tren pelemahan selama tiga hari beruntun.

Yang menarik, rupiah bisa menguat di tengah dolar AS yang masih perkasa secara global.

Dolar AS masih bertahan dekat level tertinggi sepekan setelah inflasi AS kembali memanas. Data menunjukkan inflasi AS April 2026 naik 3,8% secara tahunan, tertinggi sejak Mei 2023. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak akibat perang dengan Iran.

Situasi geopolitik Timur Tengah juga masih bikin pasar waswas karena harapan damai AS-Iran kembali memudar. Kombinasi inflasi tinggi, harga minyak mahal, dan tensi geopolitik bikin pasar makin ragu The Fed bakal memangkas suku bunga tahun ini.

Meski begitu, rupiah tetap bisa menguat. Kemungkinan ada sentimen positif dari ekspektasi dukungan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan bilang Kementerian Keuangan bakal ikut membantu Bank Indonesia buat menahan tekanan rupiah.

Salah satu cara yang dipakai adalah lewat Bond Stabilization Fund (BSF), yaitu dana stabilisasi obligasi yang diharapkan bisa meredam gejolak di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan ikut menopang rupiah.

Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun 0,42% ke level 6,709%. Penurunan yield ini biasanya jadi tanda harga obligasi lagi naik karena investor mulai masuk dan memborong SBN di pasar sekunder.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.