BI Diperkirakan Nggak Ubah Suku Bunga (Tetap 4,75%), Fokus Jaga Rupiah Tetap Stabil

BI Diperkirakan Nggak Ubah Suku Bunga (Tetap 4,75%), Fokus Jaga Rupiah Tetap Stabil

BFDCnews.com — JAKARTA. Kondisi global yang lagi makin nggak pasti bikin ruang buat menurunkan suku bunga jadi makin sempit.

LPEM FEB UI memprediksi Bank Indonesia (BI) bakal tetap menahan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, walaupun inflasi dalam negeri mulai turun.

Wakil Direktur LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki, bilang langkah ini penting buat menjaga stabilitas, terutama dari sisi eksternal.

“BI sebaiknya tetap mempertahankan suku bunga di 4,75% dengan fokus menjaga stabilitas eksternal,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Tekanan dari luar ini salah satunya datang dari konflik AS–Iran yang makin memanas. Dampaknya, harga energi naik dan risiko inflasi impor ikut meningkat.

Efeknya juga mulai terasa di dalam negeri. Terlihat dari arus modal keluar yang mencapai US$1,47 miliar, rupiah yang melemah sekitar 0,88% secara bulanan, serta cadangan devisa yang turun ke US$148,2 miliar.

Di sisi lain, inflasi Indonesia sebenarnya lagi menunjukkan tren turun. Pada Maret 2026, inflasi tahunan tercatat 3,48% (yoy), turun dari Februari yang masih di 4,76%.

Penurunan ini salah satunya karena efek diskon tarif listrik tahun lalu sudah mulai hilang. Meski begitu, kelompok pengeluaran seperti perumahan, listrik, air, dan bahan bakar masih jadi penyumbang utama inflasi—walaupun tekanannya mulai berkurang.

Kalau dilihat lebih detail, inflasi inti juga turun ke 2,52%, yang artinya tekanan dari sisi permintaan masih cukup terkendali. Sementara itu, harga yang diatur pemerintah sempat naik secara bulanan karena kenaikan BBM nonsubsidi dan tarif transportasi.

Untuk ke depan, inflasi diperkirakan bakal makin melandai di April setelah efek Lebaran mereda. Tapi tetap ada risiko, terutama kalau harga energi global naik lagi.

Dari sisi perdagangan, Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026. Tapi angkanya turun cukup tajam dibanding tahun lalu karena pertumbuhan ekspor kalah cepat dari impor.

Kenaikan impor—terutama barang modal dan bahan baku—justru jadi sinyal positif, karena menunjukkan aktivitas industri masih cukup kuat. Ini juga sejalan dengan PMI manufaktur yang masih di zona ekspansi, yaitu 53,8.

Meski begitu, tekanan global masih jadi bayang-bayang di pasar keuangan domestik. Rupiah sempat melemah ke kisaran Rp17.125 per dolar AS, walaupun masih relatif terkendali berkat intervensi BI.

Cadangan devisa yang turun pun sebenarnya masih aman, setara sekitar enam bulan impor.

Dalam kondisi seperti ini, BI dihadapkan pada dilema. Kalau buru-buru turunin suku bunga, rupiah bisa makin tertekan dan modal asing bisa keluar. Tapi kalau terlalu ketat, pertumbuhan ekonomi bisa ikut melambat.

Makanya, strategi “wait and see” alias nunggu dan lihat perkembangan dinilai jadi pilihan paling realistis saat ini.

Jadi, menahan suku bunga di 4,75% dianggap sebagai langkah tengah buat tetap menjaga stabilitas sekaligus mengendalikan inflasi di tengah kondisi global yang masih belum jelas arahnya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.