Bursa Saham Bergairah, IHSG Melesat ke 6.210

ihgs 3

Jakarta, BFDCnews.com – Memasuki pekan pertama Juni 2026, perhatian pelaku pasar tertuju pada sejumlah agenda penting, mulai dari rilis data ekonomi, kebijakan baru pemerintah, hingga perkembangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan.

Salah satu kebijakan yang mulai berlaku per 1 Juni 2026 adalah pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Perusahaan ini akan bertugas mengelola sistem ekspor satu pintu untuk tiga komoditas unggulan Indonesia, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy.

Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sepanjang 2025, nilai ekspornya mencapai US$66,13 miliar atau sekitar 23,4% dari total ekspor Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam sekaligus meningkatkan transparansi transaksi ekspor.

Pemerintah juga akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan selama masa transisi sebelum sistem tersebut diterapkan secara penuh pada 1 Januari 2027.

Selain itu, pemerintah mulai memberlakukan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP Nomor 21 Tahun 2026.

Dalam aturan tersebut, eksportir nonmigas diwajibkan menempatkan 100% devisa hasil ekspornya di rekening khusus dalam negeri selama minimal 12 bulan. Sementara itu, eksportir migas diwajibkan menempatkan 30% devisanya selama sedikitnya tiga bulan.

Pemerintah juga membatasi konversi devisa ke rupiah maksimal 50% dan menyiapkan berbagai insentif, termasuk tarif Pajak Penghasilan yang lebih rendah bagi eksportir yang mematuhi aturan tersebut.

Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa nasional sekaligus meningkatkan manfaat aktivitas ekspor bagi sistem keuangan dalam negeri.

Di tengah berbagai kebijakan domestik tersebut, pasar saham Asia justru bergerak melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Investor cenderung berhati-hati karena ketidakpastian terkait proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Padahal, sehari sebelumnya bursa saham Wall Street berhasil mencetak rekor tertinggi baru. Namun sentimen positif tersebut belum mampu mengangkat pasar Asia.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka turun 0,52%, sementara Topix terkoreksi lebih dalam sebesar 0,98%.

Tekanan juga terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi melemah 0,32%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq anjlok hingga 2,5%.

Bursa Australia juga ikut berada di zona merah dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,67%. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong diperdagangkan di level 25.207, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.398,18.

Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan hubungan AS dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan dirinya tidak terlalu khawatir jika pembicaraan damai dengan Teheran tidak mencapai kesepakatan.

Pernyataan tersebut membuat investor semakin waspada karena kegagalan negosiasi berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik, mendorong kenaikan harga energi, serta memengaruhi arah kebijakan suku bunga global dalam beberapa bulan mendatang.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.