IHSG Melesat 1,49% di Sesi I, Saham Konglomerat Kembali Jadi Bintang

Jakarta, BFDCnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatannya hingga akhir sesi I perdagangan Selasa (2/6/2026). IHSG ditutup naik 91,48 poin atau 1,49% ke level 6.218,86.

Pergerakan pasar terbilang cukup ramai. Sebanyak 347 saham menguat, 338 saham melemah, dan 274 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp14,81 triliun dengan volume perdagangan 16,03 miliar saham yang ditransaksikan sebanyak 1,53 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga ikut naik menjadi Rp10.938 triliun.

Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu kembali menjadi pusat perhatian. Hingga sesi I, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi dua saham dengan nilai transaksi terbesar, masing-masing mencapai Rp4,84 triliun dan Rp2,89 triliun.

Tak hanya ramai diperdagangkan, saham-saham Grup Barito juga menjadi motor penggerak utama kenaikan IHSG hari ini. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) bahkan menyentuh batas auto rejection atas (ARA). Sementara itu, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) dan BRPT melesat lebih dari 5%, sedangkan TPIA terbang 12,04%.

Selain saham-saham Grup Barito, emiten batu bara Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), juga mencuri perhatian. Setelah sempat terpuruk dan kehilangan hampir 90% nilainya sepanjang tahun ini, DSSA berhasil bangkit dan menyentuh ARA pada perdagangan hari ini.

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik Grup Salim juga tampil impresif dengan lonjakan mencapai 14,85%.

Tidak hanya itu, sejumlah saham konglomerasi lain, mulai dari Grup Bakrie hingga emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, turut bergerak di zona hijau.

Berdasarkan data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan berhasil mencatatkan penguatan. Sektor utilitas dan bahan baku menjadi yang paling unggul. Sebaliknya, sektor kesehatan, teknologi, industri, dan konsumer primer masih mengalami tekanan.

Dari sisi kontributor indeks, BREN menjadi penyumbang terbesar kenaikan IHSG dengan kontribusi 27,67 poin indeks. Di belakangnya ada AMMN yang menyumbang 16,71 poin dan BBRI sebesar 10,98 poin.

Di tengah euforia pasar saham, investor juga mulai mencermati sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Memasuki pekan pertama Juni 2026, perhatian pasar tertuju pada berbagai rilis data ekonomi domestik dan global, serta implementasi sejumlah kebijakan baru pemerintah.

Salah satu kebijakan yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2026 adalah pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Perusahaan ini akan mengelola sistem ekspor satu pintu untuk tiga komoditas strategis Indonesia, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy.

Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi besar terhadap ekspor nasional dengan nilai mencapai US$66,13 miliar sepanjang 2025 atau sekitar 23,4% dari total ekspor Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan ini bertujuan meningkatkan tata kelola sumber daya alam sekaligus memperkuat pengawasan transaksi ekspor agar nilai ekspor yang tercatat benar-benar mencerminkan transaksi yang terjadi.

Pemerintah akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan selama masa transisi sebelum kebijakan tersebut diterapkan secara penuh pada 1 Januari 2027.

Selain itu, pemerintah juga mulai menerapkan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP Nomor 21 Tahun 2026.

Dalam aturan tersebut, eksportir nonmigas diwajibkan menempatkan 100% DHE di rekening khusus dalam negeri selama minimal 12 bulan. Sementara untuk sektor migas, kewajiban penempatan ditetapkan sebesar 30% selama sedikitnya tiga bulan.

Pemerintah juga membatasi konversi devisa ke rupiah maksimal 50% serta memberikan insentif berupa tarif Pajak Penghasilan yang lebih rendah bagi eksportir yang patuh. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa nasional sekaligus meningkatkan manfaat ekspor bagi sistem keuangan dalam negeri.

Di sisi global, sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Bursa saham Asia-Pasifik mayoritas dibuka melemah pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya kekhawatiran terkait proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Padahal sebelumnya Wall Street baru saja mencetak rekor tertinggi baru. Namun investor di Asia tetap memilih bersikap hati-hati.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,52%, sedangkan Topix terkoreksi lebih dalam sebesar 0,98%. Di Korea Selatan, Kospi melemah 0,32% dan Kosdaq anjlok hingga 2,5%.

Pasar Australia juga bergerak di zona merah dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,67%. Sementara kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong diperdagangkan lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Pelaku pasar masih terus memantau perkembangan hubungan AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan dirinya tidak terlalu khawatir jika pembicaraan damai dengan Teheran gagal mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut membuat investor tetap waspada terhadap potensi meningkatnya ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi pasar keuangan global.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.