Jakarta – Krisis energi global lagi dilihat sebagai momen penting buat Indonesia buat “reset” strategi transportasi nasional. Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah ngurangin ketergantungan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum berbasis listrik (EV).
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mendukung kebijakan yang lebih berpihak ke transportasi publik di berbagai daerah. Menurut dia, ini penting banget karena sebagian besar subsidi energi selama ini justru habis dipakai kendaraan pribadi.
“Setuju, karena kendaraan pribadi itu nyedot 50%-60% BBM nasional. Kalau transportasi publik, apalagi yang listrik, didorong, itu bakal sangat membantu,” ujarnya.
Ia juga sepakat dengan usulan dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) soal perlunya Instruksi Presiden (Inpres) untuk mempercepat pembangunan transportasi umum. Menurutnya, ini nggak bisa setengah-setengah—harus jadi gerakan nasional biar efisien dan menarik buat investor.
“Kalau tiap daerah jalan sendiri-sendiri, misalnya cuma beli 50 bus listrik, pasti mahal. Tapi kalau dikumpulin secara nasional, misalnya sampai 5.000 unit, biayanya bisa jauh lebih murah,” jelasnya.
Dengan skala sebesar itu, Wijayanto yakin Indonesia juga bisa sekalian bangun industri hijau sendiri di dalam negeri.
“Mulai dari produksi solar panel, bus listrik, sampai ekosistem EV-nya, semua bisa dikembangkan di Indonesia. Skala besar bikin investor lebih tertarik. Jadi, momentum krisis energi ini harus dimanfaatkan buat ubah mindset, strategi, dan kebijakan secara besar-besaran,” tutupnya.
