Harga Minyak Ambles 16%, Turun dari Level US$100

Jakarta — Harga minyak dunia sempat naik, tapi langsung berbalik arah dan jatuh cukup dalam pada perdagangan Rabu (1/4/2026) siang. Berdasarkan data dari Refinitiv pukul 14.20 WIB, harga Brent turun ke US$99,35 per barel dari sebelumnya US$118,35.

Kalau dihitung dalam sehari, penurunan Brent ini sekitar 16%—cukup tajam. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga ikut turun, tapi nggak sedalam Brent. Harganya turun ke US$97,44 per barel dari US$101,38, atau melemah sekitar 3,9%.

Penurunan ini terjadi setelah harga sempat naik di awal perdagangan. Tapi kemudian, pelaku pasar mulai ambil untung (profit taking), jadi harga langsung terkoreksi. Laporan dari Reuters menyebut salah satu sentimen utamanya datang dari perkembangan konflik di Timur Tengah.

Ada spekulasi perang antara Amerika Serikat dan Iran bakal segera mereda. Bahkan, Presiden AS Donald Trump bilang operasi militer bisa selesai dalam dua sampai tiga minggu. Pernyataan ini bikin pasar mikir kalau risiko geopolitik mulai turun, jadi harga minyak ikut tertekan.

Meski begitu, situasinya masih belum sepenuhnya aman. Jalur distribusi energi global, terutama Selat Hormuz, yang dilewati sekitar 20% perdagangan minyak dunia, masih terganggu. Jadi walaupun konflik mereda, distribusi minyak belum tentu langsung normal.

Analis juga bilang kerusakan infrastruktur energi serta mahalnya biaya pengiriman dan asuransi tanker kemungkinan masih bakal jadi beban dalam waktu dekat. Artinya, tekanan dari sisi pasokan masih ada.

Di sisi lain, survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC turun pada Maret karena ekspor ikut terpangkas akibat gangguan distribusi. Sementara di Amerika Serikat, produksi minyak juga sempat drop di Januari gara-gara badai musim dingin ekstrem.

Dalam seminggu terakhir, pergerakan harga minyak memang lagi liar banget. Brent sempat nyentuh US$118 pada 31 Maret, tapi sekarang sudah turun lagi ke bawah US$100. Naik-turunnya harga ini nunjukin tarik-menarik antara harapan konflik mereda dan kekhawatiran pasokan yang masih belum stabil.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.