JAKARTA – Pergerakan IHSG diprediksi masih bakal terbatas di kisaran 7.050 sampai 7.340 pada perdagangan Jumat (27/3). Ini setelah kemarin sempat turun 1,89% dan ditutup di level 7.164.
Analis dari Phintraco Sekuritas bilang, penurunan IHSG kemarin lebih karena aksi ambil untung (profit-taking), di tengah situasi yang masih belum jelas soal negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Meski begitu, secara teknikal kondisinya mulai agak “mendingan”. Indikator MACD menunjukkan tekanan negatif yang mulai menyempit, sementara Stochastic RSI juga bergerak ke area pivot.
“IHSG masih bertahan di atas MA5, jadi pergerakannya diperkirakan bakal sideways di kisaran 7.050–7.250,” jelas analis Phintraco.
Di sisi lain, analis CGS International Sekuritas Indonesia melihat sentimen global juga ikut menekan pasar. Soalnya, mayoritas indeks di Wall Street kompak melemah pada Kamis kemarin.
Belum lagi, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual besar-besaran (net sell) di pasar saham Indonesia, dengan nilai tembus lebih dari Rp20 triliun.
“IHSG hari ini kemungkinan masih lanjut melemah, dengan support di 7.080/7.000 dan resistance di 7.245/7.323,” kata analis CGS International.
Senada, analis BRI Danareksa Sekuritas juga menilai kombinasi aksi profit-taking dan ketidakpastian geopolitik bikin pelaku pasar cenderung ‘main aman’ alias risk-off.
Akibatnya, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diprediksi masih terbatas, dengan support di 7.100 dan resistance di kisaran 7.300–7.340.
“Sentimen dari luar, seperti naiknya harga energi (minyak dan gas) serta tekanan jual dari investor asing, masih jadi faktor utama yang nahan IHSG buat naik lebih jauh,” jelas analis BRI Danareksa
