JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa lagi-lagi turun tangan buat jaga kondisi pasar keuangan tetap stabil. Kali ini, dia nyuntik dana segar sekitar Rp 100 triliun ke perbankan.
Tujuannya? Biar kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang mulai naik jelang Lebaran 2026 bisa diredam.
Purbaya bilang, dana ini sudah mulai digelontorkan ke sistem perbankan sejak pertengahan Maret 2026, sekitar seminggu sebelum Idul Fitri. Fokusnya ke bank-bank pelat merah alias Himbara dan juga Bank DKI.
Langkah ini diambil karena yield SBN tenor 10 tahun sudah naik ke level 6,84% per 25 Maret 2026, alias makin dekat ke angka 7%.
“Dana Rp 100 triliun ini biar bank bisa beli obligasi (SBN). Kalau bank banyak beli, yield-nya bisa ditekan turun lagi,” jelas Purbaya ke wartawan di Kantor Kemenkeu, Jakarta.
Menurut dia, meski jumlahnya nggak terlalu besar, suntikan dana ini cukup buat nahan lonjakan yield biar nggak naik terlalu cepat. Soalnya, kenaikan kecil aja, sekitar 0,1%–0,4%, sudah jadi tanda kalau likuiditas di perbankan lagi seret.
Purbaya juga bilang, keputusan ini diambil setelah melihat tanda-tanda bank memang lagi kekurangan likuiditas. Sebelumnya, pemerintah sudah lebih dulu masukin dana sekitar Rp 200 triliun ke sistem. Tapi karena Rp 75 triliun sempat ditarik di awal tahun, total yang tersisa sekarang sekitar Rp 225 triliun.
“Pas saya cek, ternyata likuiditas bank memang kurang. Jadi kita tambahin lagi. Ini kita jaga serius,” katanya.
Dana ini disalurkan secara fleksibel ke beberapa bank, tapi untuk tahap awal difokuskan ke bank-bank yang masih di bawah kendali pemerintah. Salah satunya, Bank DKI yang disebut dapat sekitar Rp 2 triliun.
Sementara itu, untuk bank swasta, pemerintah masih nahan diri. Penyaluran dana ke mereka belum dilakukan karena masih dalam tahap pertimbangan.
“Yang kita kontrol dulu. Nanti kalau bank swasta mau dan kondisinya sehat, baru kita buka,” ujar Purbaya.
Selain itu, langkah ini juga dipengaruhi kondisi likuiditas yang perlu dijaga seiring pertumbuhan uang primer (M0) yang sudah tembus sekitar 14% di Februari. Kenaikan yield sepanjang Maret juga jadi sinyal kalau pasar butuh lebih banyak pembeli SBN.
“Kalau mau yield turun, harus ada yang beli. Makanya kita dorong likuiditas ke bank,” tambahnya.
Ke depan, Purbaya memastikan pemerintah bakal terus memantau kondisi pasar. Kalau dibutuhkan, langkah tambahan juga siap diambil demi menjaga stabilitas keuangan dan biaya utang negara tetap terkendali.
