Jakarta, BFDCnews.com – Pasar keuangan Indonesia kemarin (Senin, 27/4/2026) ditutup beda arah. IHSG malah turun, tapi rupiah masih bisa menguat tipis lawan dolar AS.
Buat hari ini (Selasa, 28/4/2026), pergerakan pasar diperkirakan masih bakal naik-turun alias cukup volatil, karena banyak sentimen besar yang lagi dinanti.
IHSG sendiri sempat naik di sesi awal, tapi tiba-tiba berbalik arah dan ditutup turun 22,97 poin (0,32%) ke level 7.106,52. Menariknya, walaupun indeks turun, sebenarnya mayoritas saham justru masih di zona hijau. Nilai transaksi juga gede banget, tembus Rp16,57 triliun.
Saham-saham bank besar jadi yang paling ramai ditransaksikan. BBCA mencatat transaksi terbesar, tapi harganya justru turun. Disusul BMRI dan BBRI yang juga mencatat transaksi jumbo.
Secara sektor, kebanyakan lagi melemah, terutama sektor energi dan finansial. Saham-saham bank besar ikut terkoreksi, bahkan beberapa seperti Bank Permata dan Bank Danamon turun cukup dalam.
Tekanan juga datang dari saham-saham grup besar dan energi, termasuk PTRO dan TPIA. Sementara DSSA makin anjlok sampai 8,66% dan sudah turun sekitar 43% dalam seminggu terakhir setelah kabar dari MSCI.
Jadi walaupun banyak saham naik, penurunan di saham-saham besar tetap cukup kuat buat narik IHSG ke zona merah.
Di pasar mata uang, rupiah justru berhasil menguat tipis ke Rp17.185 per dolar AS. Sepanjang hari, pergerakannya cukup fluktuatif—sempat melemah dulu, lalu berbalik menguat di penutupan.
Penguatan rupiah ini terjadi di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Mulai dari suku bunga tinggi di AS, kebijakan tarif, sampai konflik Timur Tengah yang belum reda, semuanya masih jadi tekanan.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, juga bilang kondisi global lagi nggak baik-baik saja. Risiko masih tinggi dan ekonomi dunia cenderung melambat.
Konflik Timur Tengah juga bikin harga minyak tetap tinggi, yang bisa berdampak ke inflasi dan aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Makanya, rupiah jadi lebih rentan bergerak naik-turun.
Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun naik ke 6,814%, yang artinya harga obligasi lagi turun karena banyak investor yang jualan.
Sementara itu, dari AS, bursa Wall Street mayoritas naik. S&P 500 dan Nasdaq bahkan cetak rekor baru, walaupun kenaikannya terbatas karena ketegangan geopolitik dan harga minyak yang masih tinggi.
Masuk ke hari ini, ada banyak hal yang bakal jadi perhatian pasar. Dari luar negeri, investor lagi nunggu keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang (BOJ). Dari dalam negeri, fokusnya ke hasil pertemuan OJK dengan MSCI, reshuffle kabinet, sampai komentar pemerintah soal prospek ekonomi dan IHSG.
Soal konflik global, situasinya masih belum jelas. AS dan Iran masih belum ketemu titik temu, dan isu Selat Hormuz jadi perhatian besar karena berpengaruh ke pasokan minyak dunia.
Harga minyak pun masih tinggi karena kondisi ini, yang otomatis bikin pasar global tetap waspada.
Dari Jepang, pasar memperkirakan suku bunga bakal ditahan di 0,75%, tapi tetap ada kemungkinan naik dalam beberapa bulan ke depan. Ini penting karena Jepang adalah salah satu investor besar di Indonesia.
Dari dalam negeri, hasil pertemuan OJK dengan MSCI terbilang positif. Ada beberapa reformasi yang diapresiasi, termasuk soal transparansi dan free float saham.
Sentimen MSCI ini penting banget karena bisa mempengaruhi saham-saham besar, terutama yang masuk indeks global.
Selain itu, reshuffle kabinet Presiden Prabowo juga jadi perhatian pasar. Beberapa posisi penting dirombak, termasuk di level menteri dan pejabat strategis.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa cukup optimistis dengan masa depan IHSG. Bahkan, dia bilang IHSG bisa tembus 28.000 di 2029-2030 kalau pertumbuhan ekonomi terus terjaga.
Target pertumbuhan ekonomi 8% juga masih dikejar serius, dengan berbagai reformasi yang lagi dijalankan pemerintah.
Intinya, pasar hari ini bakal penuh sentimen—mulai dari global sampai domestik. Jadi wajar kalau pergerakannya masih bakal naik-turun dan penuh kejutan.
