Saham Konglo Balik Ngebut, Tinggal Nunggu Putusan MSCI

BFDCnews.com – Saham-saham konglomerat lagi pada bangkit dalam sepekan terakhir, setelah sebelumnya sempat ke-tekan gara-gara pengumuman daftar emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (HSC) dari bursa.

Sentimen positif juga datang dari FTSE Russell yang masih mempertahankan status Indonesia di secondary emerging market. Ditambah lagi sempat ada kabar gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang bikin pasar global agak adem.

Tapi, update terbaru hari Minggu (12/4) bilang kalau negosiasi itu gagal, jadi potensi tegang lagi masih ada.

Meski lagi reli, kondisi ini belum sepenuhnya aman karena pasar masih nunggu keputusan penting dari MSCI.


Saham Konglo Lagi Ngegas

Yang paling mencolok datang dari saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.

  • BRPT melonjak hampir 50% ke Rp1.915
  • TPIA naik sekitar 45% ke Rp6.075
  • CUAN naik 28% ke Rp1.345
  • CDIA naik 25% ke Rp1.015
  • PTRO naik 25% ke Rp5.375
  • BREN juga ikut naik 20% ke Rp5.800

Grup Bakrie juga nggak mau ketinggalan:

  • BNBR melonjak 40%
  • VKTR naik 25%
  • BRMS naik hampir 15%
  • ENRG naik 13%
  • DEWA naik 10%
  • BUMI naik hampir 8%

Dari Grup Hapsoro:

  • RAJA naik 20%
  • BUVA naik 19%
  • RATU naik 14%

Sementara itu, DSSA dari Sinarmas juga naik 10% setelah stock split 1:25.

Grup lain juga ikut bergerak:

  • AMMN naik 15%
  • PANI naik 13%

Dari Grup Haji Isam, pergerakannya lebih campur:

  • JARR dan PGUN naik tipis
  • Tapi TEBE malah turun sekitar 7%

Saham WIFI milik Hashim juga ikut naik hampir 10%.


Kenapa Bisa Naik?

Rebound ini terjadi setelah sebelumnya banyak saham konglo terkoreksi sejak awal tahun. Penyebabnya antara lain isu dari MSCI soal investabilitas dan juga kondisi global yang sempat goyang karena konflik Iran.

Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, saham konglomerasi memang erat banget kaitannya sama indeks global.

Efek dari pengumuman FTSE kemarin jadi semacam “angin segar” yang bikin banyak saham konglo ikut bangkit, nggak cuma Grup Barito tapi juga grup lain seperti Bakrie dan Hapsoro.


Semua Mata ke MSCI

Ke depan, arah saham konglomerat masih sangat tergantung pada keputusan MSCI, terutama karena bakal ada rebalancing besar di Mei.

Analis CGS International, Hadi Soegiarto, bilang Indonesia sekarang lagi menjalankan reformasi pasar modal, termasuk soal HSC dan klasifikasi baru dari KSEI.

Sekarang, bola panasnya ada di MSCI.

Diperkirakan update bakal keluar sebelum pengumuman rebalancing tanggal 12 Mei 2026, kemungkinan di akhir April.


Risiko Masih Ada

Kabar baiknya, peluang Indonesia turun ke status Frontier Market makin kecil.

Tapi, ada kemungkinan bobot Indonesia di indeks MSCI bakal diturunkan secara moderat. Penyebabnya bisa karena ada saham yang keluar dari indeks, turun peringkat, atau free float-nya berkurang.

Kalau skenario ini terjadi, potensi dana keluar dari investor pasif bisa sekitar:

  • USD 1,1 miliar – USD 2,1 miliar
    (± Rp18 triliun – Rp35 triliun)

Sebagian besar sebenarnya sudah mulai “kehitung” di pasar, terlihat dari aksi jual asing sekitar USD 1,4 miliar dalam beberapa minggu terakhir.

Meski begitu, karena kasus Indonesia ini cukup unik, risiko hasil yang lebih buruk tetap ada. Jadi wajar kalau investor masih cenderung hati-hati, apalagi mendekati akhir April.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.