JAKARTA — Pengelola indeks global FTSE Russell memutuskan untuk mempertahankan status Indonesia di level Secondary Emerging Market. Keputusan ini diambil setelah FTSE mencermati berbagai langkah reformasi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO).
Dalam pengumuman yang dirilis Selasa (7/4), FTSE menyebut masih terus memantau perkembangan sejumlah aturan baru di pasar modal Indonesia.
Beberapa hal yang jadi sorotan antara lain peningkatan free float, keterbukaan data pemegang saham di atas 1%, hingga data High Shareholding Concentration (HSC) pada sejumlah emiten.
FTSE menilai berbagai langkah tersebut dilakukan untuk memperbaiki transparansi dan keandalan data di pasar modal Indonesia.
“Sejumlah inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi masalah transparansi dan reliabilitas data,” tulis FTSE dalam keterangan resminya.
Sama seperti pengumuman sebelumnya pada Februari lalu, FTSE juga tidak mengubah bobot maupun menghapus saham Indonesia dari indeks global mereka.
FTSE menyatakan, keputusan lebih lanjut terkait perlakuan terhadap saham-saham Indonesia akan kembali dikonfirmasi dalam review indeks pada Juni 2026, dengan mempertimbangkan perkembangan reformasi pasar dan masukan dari para pelaku pasar.
Bisa jadi sentimen positif buat asing
Analis Stockbit Sekuritas Digital menilai keputusan FTSE ini bisa menjadi angin segar bagi pasar saham Indonesia, khususnya untuk saham-saham blue chip.
Menurut mereka, status Indonesia yang tetap bertahan di kategori Secondary Emerging Market berpotensi membantu menarik kembali aliran dana asing, apalagi di tengah sentimen global yang mulai membaik setelah adanya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
“Dikombinasikan dengan konfirmasi status FTSE Secondary Emerging, risk premium Indonesia di mata investor asing berkurang,” tulis tim riset Stockbit Sekuritas dalam laporan pagi ini.
Vietnam justru selangkah lebih maju
Dalam pengumuman yang sama, FTSE juga mengabarkan perkembangan terbaru dari pasar modal Vietnam.
Negara tersebut kini tengah dipersiapkan untuk naik kelas dari Frontier Market menjadi Secondary Emerging Market.
Meski begitu, perubahan status Vietnam itu baru akan berlaku efektif pada September 2026, setelah regulator setempat menyelesaikan sejumlah perbaikan yang masih dibutuhkan.
FTSE juga menyebut proses masuknya Vietnam ke indeks global mereka akan dilakukan secara bertahap, agar transisinya berjalan lebih mulus bagi para pelaku pasar.
“Untuk mendukung transisi dan mengakomodasi partisipan pasar, inklusi Vietnam di indeks global FTSE Russell akan dilakukan dalam beberapa tahap,” tulis FTSE.
Pasar langsung merespons positif
Pengumuman terbaru dari FTSE langsung mendapat respons positif dari pasar.
Pada perdagangan Rabu pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau dan sempat naik hampir 3% hingga pukul 09.24 WIB.
Sementara itu, indeks acuan saham Vietnam, VNI, juga ikut menguat 2,76%, setelah sebelumnya sempat melemah dalam sepekan terakhir.
